<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>kanda riffal</title>
	<atom:link href="http://riffal.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://riffal.wordpress.com</link>
	<description>home of inspiring</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 May 2011 07:56:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='riffal.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>kanda riffal</title>
		<link>http://riffal.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://riffal.wordpress.com/osd.xml" title="kanda riffal" />
	<atom:link rel='hub' href='http://riffal.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Malas,  Penghalang Kesuksesan</title>
		<link>http://riffal.wordpress.com/2007/11/30/malas-penghalang-kesuksesan/</link>
		<comments>http://riffal.wordpress.com/2007/11/30/malas-penghalang-kesuksesan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Nov 2007 20:55:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riffal</dc:creator>
				<category><![CDATA[artcle yard]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riffal.wordpress.com/2007/11/30/malas-penghalang-kesuksesan/</guid>
		<description><![CDATA[Malas, merupakan salah satu penyebab negara Indonesia ini tertinggal dengan negara lain khususnya hubungannya dengan Sumber Daya Manusia (SDM). Sebagai contoh janganlah jauh-jauh dahulu ke Eropa, tapi yang dekat terlebih dahulu seperti Malaysia ataupun Singapura yang secara geografis luas negaranya maupun kekayaan alamnya jauh berbeda dengan Indonesia namun jauh berbeda pula dalam hal &#8220;manusianya&#8221; , [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riffal.wordpress.com&amp;blog=1459735&amp;post=146&amp;subd=riffal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font face="verdana">Malas, merupakan salah satu penyebab negara Indonesia ini tertinggal dengan negara lain khususnya hubungannya dengan Sumber Daya Manusia (SDM). Sebagai contoh janganlah jauh-jauh dahulu ke Eropa, tapi yang dekat terlebih dahulu seperti Malaysia ataupun Singapura yang secara geografis luas negaranya maupun kekayaan alamnya jauh berbeda dengan Indonesia namun jauh berbeda pula dalam hal &#8220;manusianya&#8221; , padahal dulu pelajar maupun guru-guru dari Malaysia datang ke Indonesia ini untuk belajar memperdalam ilmunya. </font></p>
<p><font face="verdana">Malas bisa berarti banyak hal, malas belajar (umum terjadi pada pelajar) ataupun malas dalam lingkup yang universal yaitu malas dalam mengerjakan sesuatu Tapi memang rasa malas sudah merupakan fitrah dari Tuhan dan kita harus yakin bahwa pemberian Tuhan itu selalu ada manfaatnya, hanya saja permasalahannya terletak pada bagaimana kita mengatasi rasa malas tersebut, mencoba mengambil manfaat atau hikmah dari penanganan rasa malas kita dan belajar melihat dari sudut pandang yang lebih baik. </font></p>
<p><font face="verdana">Malas itu bisa diibaratkan seperti keimanan kita yang ada kalanya meningkat dan ada kalanya menurun. Tapi ternyata kalau dilatih terus menerus dan teratur keimanan itu bisa meningkat atau setidaknya tidak menurun. Nah..begitupun dengan malas, dengan cara teratur diikuti dengan kekonsistenan kita mengerjakan metode atau cara mengatasi rasa malas, insyaallah rasa<br />
malas bisa di atasi dan bukan tak mungkin bisa berubah menjadi rajin.. </font></p>
<p><font face="verdana">Aku jadi terinspirasi oleh temanku yang mengatakan seperti ini, &#8220;wah..kalau ada yang nggak malas, hebatlah&#8221;. Dari perkataan terdapat makna yaitu orang yang malas dengan yang rajin, yang sukses dengan yang gagal sama-sama menghabiskan waktu 24 jam perhari, yang membedakan hanyalah manajemen dan pemanfaatan waktu tersebut. Ada beberapa cara untuk mengatasi rasa malas, diantaranya ialah : </font></p>
<p><font face="verdana"><font size="4">1. Banyak membaca</font> </font></p>
<p><font face="verdana">Jenis bacaannya bisa bermacam-macam, buku, komik, novel ataupun majalah karena disini tidak mempermasalahkan dahulu apakah buku itu baik atau tidak untuk dibaca, tapi yang penting adalah benar terlebih dahulu, benar dalam rangka untuk  membentuk kebiasaan dan sifat tidak malas karena nanti itu akan menjadi kepribadian dan karakter kita. Dampak dari membaca adalah kita akan berfikir lebih &#8220;jauh&#8221; dan akan merasa rugi jika membuat waktu kita tidak efektif dan terbuang dengan sia-sia karena telah terbiasa untuk selalu mengefektifkan waktunya dengan cara yang benar. DR. Aidh Al-Qarni dalam bukunya &#8220;La  Tahzan&#8221; menuliskan &#8220;Berpengetahuan dan berwawasan luas, menguasai banyak teori keilmiahan, berfikir secara orisinil, memahami permasalahan dan argumentasi pijakannya adalah sedikit dari sekian bayak factor yang dapat membantu menciptakan kelapangan di dalam hati. Orang yang berpengetahuan luas adalah orang yang berfikiran bebas dan berjiwa teduh&#8221;. Sedangkan untuk implementasi dari membaca bisa dengan mengajar, menulis, dll. </font></p>
<p><font face="verdana">Setelah kita membaca yang benar, kemudian bertambah tingkatan menjadi baik sehingga menjadi &#8220;membaca yang benar dan baik&#8221;. Baik disini mengandung arti membaca buku -buku yang bermanfaat dan baik tentunya seperti buku tentang pengembangan diri, ilmu pengetahuan maupun agama, bukan lagi buku seperti komik, novel , majalah, dsb. yang biasanya informasinya tidak berlaku untuk jangka waktu yang lama dan tentunya dari segi manfaat dan bobot isi berbeda dengan buku yang baik tadi. </font></p>
<p><font face="verdana">Dan jika setelah membaca kita ingin mempunyai semangat, bacalah buku-buku tentang orang-orang yang sukses atau tokoh -tokoh terkenal, biasanya setelah membaca buku seperti itu, timbul semangat untuk maju dan ingin sukses seperti mereka atau bahkan melebihinya. Bukankah hidup ini harus selalu dinamis dan terus mengalami peningkatan seperti hadits yang sering<br />
kita dengar &#8221; Barang siapa hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka dia orang yang terlaknat, barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin maka dia orang yang merugi dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka dialah orang yang diridhai atau diberi rahmat oleh Allah&#8221;. </font></p>
<p><font face="verdana"><font size="4">2. Permainan pikiran.</font> </font></p>
<p><font face="verdana">Pokoknya, ketika kita ingin melakukan sesuatu dan tiba-tiba rasa malas muncul, jangan pernah mengucapkan ataupun berpikiran negatif seperti &#8220;ah.cape nih, sepertinya tidak akan benar&#8221;. Lebih baik berpikiran positif seperti &#8220;wah..sepertinya asyik nih.pasti rame, come on semangat..semangat, de el el. Karena bagimanapun juga energi yang digunakan untuk berpikiran yang<br />
negatif dengan positif itu adalah equal alias sama, jadi bukankah lebih baik apabila kita hanya memasukkan pikiran yang positif saja. Otak secara otomatis akan menerima perintah dan masukan dari kita. Kalau berpikiran malas, pasti rasanya malas terus, otak kita akan mencari alasan supaya kita menjadi malas. &#8220;Apa yang anda pikirkan akan menjadi kenyataan&#8221; (Quantum Learning). Kemudian jika kita melakukan sesuatu harus sesuai mood dan kalau tidak mood maka yang ada hanya malas, yakinlah tidak akan sempurna, seharusnya mood atau tidak, kerjakan saja. Justru mood itu datang saat kita sedang melakukan suatu kegiatan, bukan sebelum kegiatan tersebut akan dilakukan. Masalah penampakan mood itu hanya sebuah alasan sebagai persembunyian akan rasa malas tersebut. Jadi Intinya kerjakan saja dan selalu berpikiran positif, semua itu akan membuat hidup lebih hidup.. Rasa malas tidak akan pernah hilang jika kita terus berpikiran malas dan hanya menunggu malasnya hilang. Seperti slogan salah satu produk sepatu, Just Do It .! </font></p>
<p><font face="verdana"><font size="4">3. Memiliki Tujuan</font> </font></p>
<p><font face="verdana">Hidup bisa diibaratkan dengan sebuah kapal laut dan kitalah nahkodanya. Kalau seorang nahkoda tidak punya tujuan dan tidak mempunyai kejelasan mau dibawa kemana kapal tersebut, maka kapak itu hanya akan terombang-ambing oleh ombak dan hanya mengikuti kemana air mengalir. Dengan tujuan kita punya impian dan akan mengerahkan upaya untuk mencapai<br />
tujuan tersebut sehingga rasa malas akan tersingkirkan. </font></p>
<p><font face="verdana">Sangatlah rugi kalau hidup ini layaknya kapal tadi, hanya mengikuti kemana air mengalir, tidak punya suatu kejelasan. Hidup ini terlalu berharga untuk disia-siakan, seperti kata bijak &#8220;masa depan adalah apa yang kita lakukan pada hari ini&#8221;. Terus kalau kita malas terus bisa ditebak bagaimana jadinya masa depan kita. Semakin banyak yang kita perbuat semakin nyatalah jati diri kita. Kemudian untuk mengatasi malas, kita juga harus selalu introspeksi diri sendiri supaya kita terus memperbaharui diri dan memperbaiki kesalahan yang kita perbuat. Dan jangan lupa juga untuk selalu berpikiran ke depan. Silakan malas malasan sekarang, tapi kita juga harus siap dan berani menanggung akibatnya suatu saat nanti, khan apa yang kita tanam itulah<br />
yang akan kita tuai. Ingat, kitalah pemimpin diri kita sendiri !. </font></p>
<p><font face="verdana"><font size="4">4. Berdoa</font> </font></p>
<p><font face="verdana">Meskipun dengan semangat yang menggebu, banyak membaca, dan terus mencari cara untuk menghilangkan malas, tetap saja kalau tanpa seizin -Nya, semua itu tidak akan pernah berhasil. Supaya kita tidak jadi orang yang sombong, banyak &#8211; banyaklah berdoa karena doa merupakan suatu pengharapan yang akan membuat kita selalu termotivasi khususnya secara<br />
psikologis. Kata &#8211; kata yang diucapkan dalam doa akan menjadi suatu pemikiran yang positif bagi kita. Lalu apa yang kita lakukan setelah kita berdoa ? jawabnya adalah ikhtiar. Kita tidak bisa hanya berdoa saja tanpa melakukan suatu upaya. Sebagai wujud tanggung jawab dari doa kita adalah kita bersungguh-sungguh berusaha mewujudkan doa tersebut. Setelah itu<br />
barulah kita bertawakkal yang berarti menyerahkan setiap urusan kepada &#8211; Nya. Kita harus sadar bahwa kita itu penuh dengan keterbatasan, kita hanya bisa berusaha dan berdoa sedangkan Tuhanlah yang berhak menentukan. Tentunya supaya doa kita dikabulkan, syarat mutlak adalah rajin beribadah.. </font></p>
<p><font face="verdana">Perlu diingat bahwa yang benar-benar ada itu adalah orang yang rajin dengan yang malas, bukan yang pintar dengan yang bodoh, karena kita itu semuanya makhluk yang unggul, coba bayangkan sebelum kita terlahir ke dunia ini kita sudah bersaing dengan berjuta-juta sperma, dan kitalah yang keluar sebagai pemenangnya. </font></p>
<p><font face="verdana">Mungkin masih banyak cara-cara yang lain, tapi semoga cara-cara diatas bisa menghilangkan atau minimal mengurangi rasa malas kita. Tapi semuanya kembali kepada diri kita sendiri karena rasa malas akan terus menghantui kalau kitanya sendiri tidak pernah ada keinginan kuat untuk menghilangkannya. Bagaimana ? </font></p>
<p><font face="verdana">Penulis : Mochamad Yamin Amzah, Pendidikan Network </font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/riffal.wordpress.com/146/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/riffal.wordpress.com/146/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/riffal.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/riffal.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/riffal.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/riffal.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/riffal.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/riffal.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/riffal.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/riffal.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/riffal.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/riffal.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/riffal.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/riffal.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/riffal.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/riffal.wordpress.com/146/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riffal.wordpress.com&amp;blog=1459735&amp;post=146&amp;subd=riffal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riffal.wordpress.com/2007/11/30/malas-penghalang-kesuksesan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4d8e40c99801cd07be1cee0d2633ffa3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">riffal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>S U R V I V E   V S   S U C C E S S</title>
		<link>http://riffal.wordpress.com/2007/11/30/s-u-r-v-i-v-e-v-s-s-u-c-c-e-s-s/</link>
		<comments>http://riffal.wordpress.com/2007/11/30/s-u-r-v-i-v-e-v-s-s-u-c-c-e-s-s/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Nov 2007 20:51:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riffal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspiration yard]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riffal.wordpress.com/2007/11/30/s-u-r-v-i-v-e-v-s-s-u-c-c-e-s-s/</guid>
		<description><![CDATA[Apakah anda telah merasa cukup sukses dalam hidup ini ? Kalau ya, seberapa sukseskah anda ? Definisi sukses sendiri tentu berbeda antara satu orang dengan orang yang lain. Ada orang yang definisi suksesnya adalah jika bisa hidup layak, punya satu rumah yang sederhana, bisa menyekolahkan anak, dan menghidupi keluarga. Ada orang lain yang definisi suksesnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riffal.wordpress.com&amp;blog=1459735&amp;post=145&amp;subd=riffal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font face="verdana">Apakah anda telah merasa cukup sukses dalam hidup ini ? Kalau<br />
ya, seberapa sukseskah anda ? Definisi sukses sendiri tentu berbeda<br />
antara satu orang dengan orang yang lain. Ada orang yang definisi<br />
suksesnya adalah jika bisa hidup layak, punya satu rumah yang<br />
sederhana, bisa menyekolahkan anak, dan menghidupi keluarga. Ada<br />
orang lain yang definisi suksesnya adalah jika bisa punya rumah<br />
gedongan, tabungan bermilyar rupiah di bank, mobil lebih dari satu,<br />
punya apartement, dan bisa bepergian beberapa kali ke luar negeri<br />
dalam satu tahun. Ada juga type orang yang merasa sukses jika bisa<br />
populer dan dikenal banyak orang. Tidak ada yang salah dengan<br />
keinginan tiap orang yang berbeda untuk sukses tersebut. Hanya saja,<br />
banyak orang yang salah mempersepsikan antara survive dengan sukses.<br />
Kalau begitu, apa bedanya antara survive dengan sukses ? </font></p>
<p><font face="verdana">Anthony Robbins dalam bukunya Unlimited Power pernah<br />
mengatakan, bahwa pada dasarnya tujuan hidup setiap orang hanya dua,<br />
yaitu Moving Away (menghindari sesuatu) dan Moving Toward Something<br />
(menuju sesuatu). Orang yang mempunyai tujuan hidup moving away,<br />
biasanya jika ditanya apa definisi suksesnya, kebanyakan akan<br />
menjawab dengan hal-hal yang TIDAK diinginkannya dalam hidup,<br />
misalnya tidak mau miskin, tidak mau menderita, tidak mau susah,<br />
tidak mau mengambil resiko, dan lain-lain. Lain lagi dengan orang<br />
yang tujuan hidupnya adalah moving toward something. Orang-2 jenis<br />
ini jika ditanya tujuan hidupnya, mereka akan menjawab dengan hal-hal<br />
yang mereka INGINKAN dalam hidup, misalnya mau kaya, mau hidup<br />
senang, mau menjadi direktur, dan sebagainya. </font></p>
<p><font face="verdana">Nah, andaikan kita misalkan bahwa kehidupan itu adalah suatu<br />
urutan bilangan dari satu, dua dan tiga. Dan misalkan pula semua<br />
manusia saat dilahirkan berada di titik satu. Orang yang mempunyai<br />
tujuan hidup moving away dalam hidupnya hanya akan berjuang hingga ke<br />
titik dua. Mengapa ? Karena sampai disitu saja tujuan hidup mereka<br />
telah tercapai, yaitu mereka telah berhasil mengatasi hal-hal yang<br />
tidak mereka inginkan dalam hidupnya. Dari sisi financial biasanya<br />
mereka hidup dalam level yang standard, tidak terlalu kaya, tidak<br />
terlalu miskin. Secara umum dapat dikatakan bahwa kehidupan mereka<br />
adalah CUKUP. Namun, jika ditanya lebih mendetail kepada mereka,<br />
apakah mereka PUAS dengan kehidupan seperti itu, kebanyakan menjawab<br />
tidak. Tapi karena mereka mempunyai prinsip dasar moving away, mereka<br />
tidak mempunyai keberanian lebih untuk melangkah ke titik tiga.<br />
Mereka takut untuk mengambil resiko. Dan karena prinsip moving away<br />
ini sudah mendarah daging di diri mereka, maka merekapun mulai<br />
mencari-2 alasan (excuse) agar tidak usah melangkah ke titik tiga,<br />
dan berusaha menghibur diri dengan mengatakan berbagai hal yang<br />
mengatakan bahwa titik dua inipun sudah cukup bagus, mengingat mereka<br />
dahulu berangkat dari titik satu. Orang-orang yang berada di titik<br />
dua ini adalah mereka yang termasuk golongan orang yang survive. Dari<br />
satu survey yang pernah dilakukan oleh Robert Kiyosaki, dikatakan<br />
bahwa 65 % orang di dunia hidup dalam keadaan menderita (titik satu),<br />
32 % berada dalam tahap survive (titik dua), dan hanya sekitar 3 %<br />
orang yang berada dalam tahap sukses (titik tiga). </font></p>
<p><font face="verdana">Titik ketiga ini adalah dambaan semua orang di dunia ini.<br />
Tapi tidak semua orang berani menuju kesana, bahkan mereka yang<br />
tujuan hidupnya moving toward something sekalipun, ada yang dalam<br />
prosesnya tidak berani melakukannya dan hanya menjadi sekedar angan-<br />
angan kosong. Mengapa ? karena untuk menuju kesana ada hal-hal yang<br />
harus dilakukan dan tidak semua orang mau, yaitu BERANI MENANGGUNG<br />
RESIKO, BERANI GAGAL dan KERJA KERAS. Itulah mengapa jumlah orang<br />
yang berada di titik ketiga ini di dunia ini jumlahnya hanya tiga<br />
persen !. </font></p>
<p><font face="verdana">Tidak perlu berkecil hati apabila anda saat ini anda masih<br />
berada di titik satu atau dua, sejauh anda masih punya KEINGINAN dan<br />
TINDAKAN untuk berubah menjadi lebih baik. Ada beberapa hal yang<br />
harus anda lakukan : </font></p>
<p><font face="verdana">1. UBAHLAH CARA BERPIKIR ANDA dari moving away menuju moving<br />
toward something. Tumbuhkan passion (keinginan yang berkobar-kobar)<br />
dengan memberikan emosi pada tujuan tersebut </font></p>
<p><font face="verdana">2. Ambil role model / tokoh idola dari bidang yang anda tekuni,<br />
yang menurut anda telah sukses dan berada di titik ketiga. Dengan<br />
meniru langkah orang sukses, setidaknya anda mempunyai arah yang<br />
tepat menuju kesuksesan </font></p>
<p><font face="verdana">3. DUPLIKASIKAN apa yang telah dilakukan oleh role model anda<br />
sedetil mungkin. Duplikasi disini bukan hanya sekedar tindakan dalam<br />
pekerjaan, tapi juga segala sesuatu yang dilakukan oleh role model<br />
tersebut, mungkin buku yang mereka baca, orang-2 dimana mereka<br />
berasosiasi, cara mereka berpikir, dan sebagainya. </font></p>
<p><font face="verdana">4. Berani menanggung resiko yang berupa kegagalan. BUKAN<br />
GAGALNYA YANG MEMBERI ARTI DALAM HIDUP KITA, TAPI BAGAIMANA KITA<br />
MEMPERSEPSIKAN KEGAGALAN TERSEBUT YANG MEMBUAT PERBEDAAN DALAM HIDUP<br />
KITA </font></p>
<p><font face="verdana">5.  Jangan pernah, dan jangan pernah sekalipun BERHENTI sebelum<br />
anda mencapai sukses </font></p>
<p><font face="verdana">Kehidupan akan terus berjalan apapun yang terjadi. Tapi<br />
PERBEDAAN KECIL YANG ANDA BUAT HARI INI, AKAN MEMBERI MAKNA YANG<br />
BERBEDA TERHADAP KEHIDUPAN ANDA SELANJUTNYA. Lakukan kerjanya dan<br />
dapatkan hasilnya. LIFE WILL NEVER BE THE SAME AGAIN ! </font></p>
<p><font face="verdana">Sukses untuk anda ! </font></p>
<p><font face="verdana">(Sonny V. Sutedjo &#8211; ACESIA) </font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/riffal.wordpress.com/145/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/riffal.wordpress.com/145/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/riffal.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/riffal.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/riffal.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/riffal.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/riffal.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/riffal.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/riffal.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/riffal.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/riffal.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/riffal.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/riffal.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/riffal.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/riffal.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/riffal.wordpress.com/145/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riffal.wordpress.com&amp;blog=1459735&amp;post=145&amp;subd=riffal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riffal.wordpress.com/2007/11/30/s-u-r-v-i-v-e-v-s-s-u-c-c-e-s-s/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4d8e40c99801cd07be1cee0d2633ffa3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">riffal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ideas of a Best Friend</title>
		<link>http://riffal.wordpress.com/2007/11/30/ideas-of-a-best-friend/</link>
		<comments>http://riffal.wordpress.com/2007/11/30/ideas-of-a-best-friend/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Nov 2007 20:48:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riffal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspiration yard]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riffal.wordpress.com/2007/11/30/ideas-of-a-best-friend/</guid>
		<description><![CDATA[   In first grade your idea of a good friend was the person who went to the bathroom with you and held your hand as you walked through the scary hall. In second grade your idea of a good friend was the person who helped you stand up to the class bully. In third grade [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riffal.wordpress.com&amp;blog=1459735&amp;post=144&amp;subd=riffal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font face="Verdana"><font size="-1">  </font></font><br />
<font face="Verdana"><font size="-1">In first grade your idea of a good friend was the person who went to the bathroom with you and held your hand as you walked through the scary hall.</font></font><font face="Verdana"></font></p>
<p><font face="Verdana"><font size="-1">In second grade your idea of a good friend was the person who helped you stand up to the class bully.</font></font><font face="Verdana"></font></p>
<p><font face="Verdana"><font size="-1">In third grade your idea of a good friend was the person who shared their lunch with you when you forgot yours on the bus.</font></font><font face="Verdana"></font></p>
<p><font face="Verdana"><font size="-1">In fourth grade your idea of a good friend was the person who was willing to switch square dancing partners in gym so you wouldn&#8217;t have to be stuck do-si-do-ing with Nasty Nick or Smelly Susan.</font></font><font face="Verdana"></font></p>
<p><font face="Verdana"><font size="-1">In fifth grade your idea of a friend was the person who saved a seat on the back of the bus for you.</font></font><font face="Verdana"></font></p>
<p><font face="Verdana"><font size="-1">In sixth grade your idea of a friend was the person who went up to Nick or Susan, your new crush, and asked them to dance with you, so that if they said no you wouldn&#8217;t have to be embarrassed.</font></font><font face="Verdana"></font></p>
<p><font face="Verdana"><font size="-1">In seventh grade your idea of a friend was the person who let you copy the Math homework from the night before that you had.</font></font><font face="Verdana"></font></p>
<p><font face="Verdana"><font size="-1">In eighth grade your idea of a good friend was the person who helped you pack up your stuffed animals and old baseball but didn&#8217;t laugh at you when you finished and broke out into tears.</font></font><font face="Verdana"></font></p>
<p><font face="Verdana"><font size="-1">In ninth grade your idea of a good friend was the person who would go to a party thrown by a senior so you wouldn&#8217;t wind up being the only freshman there.</font></font><font face="Verdana"></font></p>
<p><font face="Verdana"><font size="-1">In tenth grade your idea of a good friend was the person who changed their schedule so you would have someone to sit with at lunch.</font></font><font face="Verdana"></font></p>
<p><font face="Verdana"><font size="-1">In eleventh grade your idea of a good friend was the person who gave you rides in their new car, convinced your parents that you shouldn&#8217;t be grounded, consoled you when you broke up with Nick [or Glenn] or Susan, and found you a date to the prom.</font></font><font face="Verdana"></font></p>
<p><font face="Verdana"><font size="-1">In twelfth grade your idea of a good friend was the person who helped you pick out a college /university, assured you that you would get into that college/university, helped you deal with your parents who were having a hard time adjusting to the idea of letting you go&#8230;</font></font><font face="Verdana"></font></p>
<p><font face="Verdana"><font size="-1">At graduation your idea of a good friend was the person who was crying on the inside but managed the biggest smile one could give as they congratulated you.</font></font><font face="Verdana"></font></p>
<p><font face="Verdana"><font size="-1">The summer after twelfth grade your idea of a good friend was the person who helped you clean up the bottles from that party, helped you sneak out of the house when you just couldn&#8217;t deal with your parents, assured you that now that you and Nick or you and Susan were back together, you could make it through anything, helped you pack up for university and just silently hugged you as you looked through blurry eyes at 18 years of memories you ere leaving behind, and finally on those last days of childhood, went out of their way to give you reassurance that you would make it in college as well as you hadthese past 18 years, and most importantly sent you off to college knowing you were loved.</font></font><font face="Verdana"></font></p>
<p><font face="Verdana"><font size="-1">Now, your idea of a good friend is still the person who gives you the better of the two choices, holds your hand when you&#8217;re scared, helps you fight off those who try to take advantage of you, thinks of you at times when you are not there, reminds you of what you have forgotten, helps you put the past behind you but understands when you need to hold on to it a little longer, stays with you so that you have confidence, goes out of their way to make time for you, helps you clear up your mistakes, helps you deal with pressure from others, smiles for you when they are sad, helps you become a better person,and most importantly loves you!</font></font><br />
<font face="Verdana"><font size="-1"> </font></font><br />
<font face="Verdana"><font size="-1">Have a positive day!</font></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/riffal.wordpress.com/144/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/riffal.wordpress.com/144/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/riffal.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/riffal.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/riffal.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/riffal.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/riffal.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/riffal.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/riffal.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/riffal.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/riffal.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/riffal.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/riffal.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/riffal.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/riffal.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/riffal.wordpress.com/144/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riffal.wordpress.com&amp;blog=1459735&amp;post=144&amp;subd=riffal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riffal.wordpress.com/2007/11/30/ideas-of-a-best-friend/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4d8e40c99801cd07be1cee0d2633ffa3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">riffal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang K E G I G I H A N</title>
		<link>http://riffal.wordpress.com/2007/11/30/tentang-k-e-g-i-g-i-h-a-n/</link>
		<comments>http://riffal.wordpress.com/2007/11/30/tentang-k-e-g-i-g-i-h-a-n/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Nov 2007 20:46:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riffal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspiration yard]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riffal.wordpress.com/2007/11/30/tentang-k-e-g-i-g-i-h-a-n/</guid>
		<description><![CDATA[Satu Hal yang Paling Membedakan antara Kegagalan dan Kesuksesan &#8220;Achievement seems to be connected with action. Successful men and women keep moving. They make mistakes, but they don&#8217;t quit.  Prestasi terkait erat dengan tindakan. Orang-orang yang sukses akan terus berupaya. Mereka melakukan kesalahan, tetapi mereka tidak menyerah.&#8221; Conrad Hilton Orang sukses bukan tidak pernah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riffal.wordpress.com&amp;blog=1459735&amp;post=143&amp;subd=riffal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font face="verdana">Satu Hal yang Paling Membedakan antara Kegagalan dan Kesuksesan </font></p>
<p><font face="verdana">&#8220;Achievement seems to be connected with action. Successful men and women keep moving. They make mistakes, but they don&#8217;t quit.  Prestasi terkait erat dengan tindakan. Orang-orang yang sukses akan terus berupaya. Mereka melakukan kesalahan, tetapi mereka tidak menyerah.&#8221;<br />
Conrad Hilton </font></p>
<p><font face="verdana">Orang sukses bukan tidak pernah gagal, melainkan mereka tidak pernah menyerah. Sikap tersebut memerlukan mentalitas yang gigih. Kegigihan adalah salah satu unsur kehidupan yang sangat penting bagi kita. Sebagian besar orang-orang yang sukses memiliki mental seperti itu. </font></p>
<p><font face="verdana">Contoh, Laksamana Peary baru berhasil mencapai Kutub Utara setelah berupaya 8 kali. Sementara Thomas Alfa Edison melakukan eksperimen 1.000 kali sebelum berhasil menemukan bola lampu dan 1.000 paten terbanyak sepanjang masa. John Creasey ditolak 743 kali oleh penerbitnya, sebelum berhasil menerbitkan 560 judul buku, yang telah terjual lebih 60 juta kopi. Begitupun yang terjadi pada Albert Einstein, Abraham Lincoln, dan lain sebagainya. Mereka tidak memiliki kelebihan khusus kecuali kegigihan. </font></p>
<p><font face="verdana">Presiden USA ke 30, Calvin Coolidge mengatakan, &#8220;Tidak ada sesuatupun di dunia ini yang dapat menggantikan kegigihan. Bakat? Sudah sangat umum orang yang tidak berhasil karena ia hanya mengandalkan bakat. Kecerdasan? Sangat banyak orang yang cerdas tetapi tidak punya apa-apa. Pendidikan yang tinggi? Di dunia ini sangat banyak orang terlantar yang berpendidikan cukup tinggi. Kegigihan dan tekad kuat saja yang memiliki kekuatan besar.&#8221; </font></p>
<p><font face="verdana">Ketika kita memutuskan untuk tetap melanjutkan upaya hingga tercapai tujuan, itulah kegigihan. Meskipun tidak mudah memilikinya, tetapi kehidupan ini sendiri sebenarnya dapat membentuk kegigihan kita. Sehingga tak menutup kemungkinan kitapun memiliki sikap mental yang gigih dan menjadi salah satu dari orang-orang sukses di dunia.  </font></p>
<p><font face="verdana">Langkah yang dapat kita tempuh untuk membangkitkan mentalitas kegigihan kita adalah membaca dan mendengar kisah tentang bagaimana orang-orang sukses di dunia mengatasi berbagai rintangan sampai akhirnya mereka berhasil menjadi pemenang. Bila kita mengorek informasi lebih jauh tentang perjuangan mereka, kita akan mendapati bahwa mereka tak jauh berbeda dengan kita. Jika kita memiliki kualitas kegigihan seperti mereka, berarti kitapun mampu melakukan sesuatu yang luar biasa. </font></p>
<p><font face="verdana">Memiliki target yang jelas dan terukur juga dapat membangkitkan kegigihan. Ketika segalanya berjalan sulit atau tantangan semakin besar, baiknya fokuskan pada target yang ingin kita capai. Orang yang sukses pasti memiliki kreatifitas untuk menciptakan alternatif-alternat if mengatasi kesulitan di tengah proses pencapaian tujuan. Target yang jelas merupakan sumber kreatifitas, keberanian dan energi untuk tetap gigih berupaya. </font></p>
<p><font face="verdana">Melakukan visualisasi akan sangat mempengaruhi semangat dan suasana hari-hari kita. Caranya adalah mengosongkan pikiran terlebih dahulu. Kemudian pejamkan mata, dan lihatlah diri kita sejelas-jelasnya. Misalnya melihat diri kita mendapatkan sebuah penghargaan, lalu diminta memberikan kata sambutan di panggung sebagai seorang ilmuwan yang telah menemukan tehnologi terbaru dan efektif memajukan hasil pertanian 100 kali lipat. </font></p>
<p><font face="verdana">Kemudian kita juga akan melihat disana kita berbicara dengan percaya diri dan profesional serta memberikan inspirasi kepada banyak orang yang menghadiri acara tersebut. Bayangkan bagaimana seumpama kita nanti benar-benar mengalaminya. Melakukan visualisasi sesering dan sejelas mungkin seperti itu dapat membangkitkan tekad kita untuk melakukan langkah-langkah yang luar biasa. &#8220;Ingatlah selalu bahwa tekad Anda untuk sukses adalah lebih penting daripada apapun,&#8221; terang Abraham Lincoln. </font></p>
<p><font face="verdana">Auto-suggestion atau afirmasi adalah melakukan ulangan dengan menulis atau mengucapkan sebuah harapan secara berulang-ulang. Misalnya menyatakan, &#8220;Aku akan selalu menyambut hari baru dengan penuh semangat dan senyum yang paling manis. Aku akan menikmati setiap tantangan.&#8221; Itu hanya sebuah contoh afirmasi, dan semua orang bisa menuliskan atau mengucapkan harapan yang positif sesuai keinginan masing-masing untuk meningkatkan kegigihan. </font></p>
<p><font face="verdana">Melakukan auto-suggestion atau afirmasi bagi orang lain yang tidak mengerti tujuan yang hendak kita capai mungkin akan menganggap kita gila. Tetapi menurut Albert Cray, &#8220;Salah satu penentu sukses yang umum adalah membiasakan diri melakukan hal-hal yang tidak dilakukan oleh orang-orang yang gagal.&#8221; Karena auto-suggestion atau afirmasi dengan disertai keyakinan terbukti sangat berpengaruh terhadap pikiran dan kegigihan kita dalam melakukan langkah-langkah yang mendekatkan diri terhadap target yang ingin kita capai.  </font></p>
<p><font face="verdana">Lingkungan terdiri dari orang-orang, dan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap kegigihan seseorang. Hyman Rickover mengatakan, &#8220;Great minds discuss ideas, average minds discuss events, small minds discuss people.  Orang-orang yang hebat mendiskusikan ide-ide, orang-orang biasa-biasa saja mendiskusikan situasi, orang-orang hidupnya susah akan cenderung membicarakan tentang kekurangan orang lain.&#8221; </font></p>
<p><font face="verdana">Kita harus pandai dan berhati-hati memilih komunitas, karena kekeliruan memilih dapat menyebabkan semangat kita turun drastis. Sebaliknya semangat atau kegigihan kita akan terpacu bila kita dikelilingi dengan orang-orang yang berpikir dan memiliki kebiasaan positif. Mereka terdiri dari orang-orang yang memiliki semangat luar biasa untuk lebih baik dan kemauan belajar yang tinggi. </font></p>
<p><font face="verdana">Seorang yang sukses pasti memiliki program dan target kerja. Ia akan menyukai tantangan yang akan membawanya kepada kemenangan yang ia harapkan. Menghadiahi diri sendiri berdasarkan hasil tentu akan memacu kegigihan kita mewujudkan target yang lebih besar. Misalnya untuk pencapaian target jangka pendek kita nonton film terbaru atau belanja baju baru di pusat perbelanjaan. Sedangkan untuk prestasi jangka menengah kita sengaja mempersiapkan sebuah liburan ke luar kota selama 2-3 malam. Kitapun perlu memanjakan diri, misalnya melakukan wisata ke luar negri dan lain sebagainya setelah berhasil melampaui tantangan yang melelahkan untuk mencapai target jangka panjang. </font></p>
<p><font face="verdana">Secara garis besar, kita harus belajar dari kehidupan yang terus berputar. Memang banyak diantara kita yang jatuh. Tetapi bila kita memilih untuk menang, sebenarnya mahkota kesuksesan itu berada sangat dekat dengan saat kita memulai. Jadi meskipun kecepatan kita rendah dalam menciptakan kemajuan, pastikan untuk tidak pernah menyerah dan tetap gigih melangkah. </font></p>
<p><font face="verdana">*Andrew Ho adalah salah satu motivator terbaik di Asia. </font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/riffal.wordpress.com/143/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/riffal.wordpress.com/143/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/riffal.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/riffal.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/riffal.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/riffal.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/riffal.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/riffal.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/riffal.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/riffal.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/riffal.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/riffal.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/riffal.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/riffal.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/riffal.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/riffal.wordpress.com/143/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riffal.wordpress.com&amp;blog=1459735&amp;post=143&amp;subd=riffal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riffal.wordpress.com/2007/11/30/tentang-k-e-g-i-g-i-h-a-n/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4d8e40c99801cd07be1cee0d2633ffa3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">riffal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Melejitkan Kecerdasan Emosi</title>
		<link>http://riffal.wordpress.com/2007/11/30/melejitkan-kecerdasan-emosi/</link>
		<comments>http://riffal.wordpress.com/2007/11/30/melejitkan-kecerdasan-emosi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Nov 2007 20:41:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riffal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspiration yard]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riffal.wordpress.com/2007/11/30/melejitkan-kecerdasan-emosi/</guid>
		<description><![CDATA[Qana`ah tak sekadar sikap pasif menerima apa adanya, tapi ada proses evaluasi pembelajaran. Juga, berpotensi meningkatkan kecerdasan emosi. Moncong senapan yang sewaktu-waktu bisa memuntahkan timah panas tak sedikit pun membuat gentar Mahatma Gandhi. Tokoh pejuang kemerdekaan India itu tetap tenang dengan tangan kosong. Modalnya kesabaran, anti kekerasan. Bahkan hingga ia meregang nyawa, 30 Januari penghujung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riffal.wordpress.com&amp;blog=1459735&amp;post=142&amp;subd=riffal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font size="2" color="#000080" face="Verdana"></p>
<h3 class="post-title entry-title"></h3>
<p class="post-body entry-content">Qana`ah tak sekadar sikap pasif menerima apa adanya, tapi ada proses evaluasi pembelajaran. Juga, berpotensi meningkatkan kecerdasan emosi.</p>
<p>Moncong senapan yang sewaktu-waktu bisa memuntahkan timah panas tak sedikit pun membuat gentar Mahatma Gandhi. Tokoh pejuang kemerdekaan India itu tetap tenang dengan tangan kosong. Modalnya kesabaran, anti kekerasan. Bahkan hingga ia meregang nyawa, 30 Januari penghujung era 40-an.</p>
<p>Seseorang memberondongnya dengan peluru senapan. Dada pria yang hanya berbalut kain putih itu berlubang. Tubuhnya terkapar. Para pengikutnya panik, tapi dengan sergap menolong sang pemimpin yang sudah ambruk. Saat itu amarah mereka mungkin mendidih di ujun ubun-ubun. Tapi pesan pria yang bernama asli Mohandas Karamchand Gandhi ini meredam mereka. Di ujung usianya, pria berkepala plontos itu berpesan, agar orang-orang yang menolongnya mau membebaskan dan mengampuni sang penembak gelap.</p>
<p>Gandhi dikenal sebagai pembela hak-hak warga India yang masih berada di bawah koloni Inggris. Pria kelahiran 2 Oktober 1869 itu adalah pelopor perjuangan swadesi, perjuangan berlandaskan spirit cinta dan kasih.</p>
<p>Prinsip perjuangan tanpa kekerasan yang ia gagas, berhasil meledakkan semangat perlawanan rakyat untuk memboikot industri-industri Inggris di India. Konsistensi perjuangan yang tanpa pamrih membuat rakyat Sungai Gangga patuh, lalu membangkang penjajah.</p>
<p>Gandhi bukanlah seorang sufi. Ia pemeluk Hindu yang punya prinsip anti kekerasan, tak mudah mengumbar amarah. Komitmen itu dalam agama Islam layaknya sikap seorang sufi. Amarah, rakus, dan takabur, adalah pantangan besar bagi seorang sufi. Rasulullah saw pernah berpesan, siapapun yang mempunyai tiga karakter berikut, maka Allah akan memelihara dan melindungi dengan rahmat-Nya, serta memasukkan dalam kecintaan-Nya. Apa itu? “Jika diberi ia bersyukur, jika mampu membalas ia memaafkan, dan jika marah ia bersikap tenang,” sabdanya seperti diriwayatkan al-Hakim.</p>
<p>Sufi besar dari Naisabur, Iran, Abul Qasim al-Qusyairi (986-l073 M), menyebut ciri-ciri orang dalam hadis tersebut sebagai karakter qana`ah. Begitu pula dalam firman Allah ayat 13 Surat al-Infithar: sesungguhnya orang yang berbakti itu pasti berada dalam surga yang penuh kenikmatan. “Kata kenikmatan yang dimaksud adalah qana`ah di dunia,” tegasnya dalam al-Risalah al-Qusyairiyah fi Ilm al-Tashawwuf, kitab al-Qusyairi dalam ilmu tasawuf. Apakah qana`ah itu, kok sampai diumpamakan sebagai al-na`îm, surga penuh kenikmatan.</p>
<p>Menerima apa adanya, itulah definisi umum qana`ah. Biasa juga dipahami sebagai sikap pasrah dengan kondisi yang dialami. Pasif, lembek, tak berdaya, dan mudah menyerah adalah persepsi kebanyakan orang terhadap karakter sifat ini. Pemaknaan qana`ah sejatinya tak sesederhana itu. Seorang sufi biasanya mempraktikkan sikap “menerima apa adanya” dengan dua cermin.</p>
<p><strong></strong></p>
<p><strong><font color="#ff0000">Yang Lalu Biarlah Berlalu</font></strong></p>
<p>Pertama, orang yang qana`ah tak akan menyesali apapun yang telah terjadi. “Ambillah tiap kejadian itu untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pengertian,” firman Tuhan. Ayat kedua dalam surat al-Hasyr inilah yang dijadikan patokan para sufi dalam menyikapi peristiwa menyedihkan atau sebuah kesalahan yang telah berlalu. Nasi sudah menjadi bubur, yang lalu biarlah berlalu. Begitu kata pepatah.</p>
<p>Tidak menyesali bukan berarti tidak peduli. Kejadian yang tak diinginkan yang telah terjadi itu tak perlu ditangisi. Tapi, dievaluasi. Mengapa sampai terjadi? Apa penyebabnya? Bagaimana agar tak terjadi lagi? Itulah antara lain pertanyaan yang harus dipecahkan.</p>
<p>Untuk melatih sikap ini kepada muridnya, seorang guru sekolah dasar membawa segelas susu manis ke dalam kelas dan menaruhnya di atas meja.<br />
“Siapa yang doyan susu?” tanya guru itu.<br />
“Saya&#8230; saya… saya Pak…,” suara itu terdengar sahut menyahut.<br />
“Kalau begitu, yang mau susu ambil sendiri ke depan.”</p>
<p>Anak-anak langsung berhamburan maju ke depan berebut segelas susu di meja pak guru. Dan… “Pyar…!” gelas itu pecah. Semuanya terdiam, bahkan ada yang menangis, gara-gara tak jadi kebagian susu kesukaannya itu.</p>
<p>Kejadian ini sengaja didesain guru tersebut untuk memberikan pelajaran kepada anak didiknya. Ia kemudian menjelaskan. Gelas yang pecah dan susu yang tumpah ke tanah tidak akan kembali lagi. Semua telah terjadi. Karena itu, tidak perlu ditangisi dan disesali. Guru tersebut lalu memancing dengan pertanyaan: mengapa susu tadi bisa tumpah? Apakah penyebabnya? Bagaimana agar tidak terjadi lagi?</p>
<p>Setelah itu, anak-anak mengerti dan dapat menyimpulkan. Lain kali kalau mau mengambil sesuatu mereka mesti hati-hati dan tak berebut. Harus bersabar dan bergiliran. Qana`ah, dalam kasus ini, berarti tak hanya menerima kenyataan secara pasif, tapi ada proses evaluasi sebagai pembelajaran yang berharga.</p>
<p><strong></strong></p>
<p><strong><font color="#008000"><font color="#ff0000">Amarah Membawa Petaka</font><br />
</font></strong><br />
Kedua, orang yang qana`ah tak terbesit sedikit pun niat balas dendam. Amarah timbul karena perasaan ‘tidak puas’ dan ‘tidak terima’, lalu berubah menjadi dendam membara. Dendam tak akan menyelesaikan masalah, justru akan menambah masalah baru. “Siapapun yang mampu menahan amarah, Allah akan menahan siksa kepadanya, dan siapapun yang mampu menjaga lisannya, Allah akan menutupi kekurangannya,” tegas Nabi seperti diriwayatkan Thabrani.</p>
<p>Ihwal ini, orang-orang sufi juga meneladani kisah dalam riwayat al-Turmudzi. Ada seorang lelaki datang menghadap Nabi saw. Ia bertanya, ya Rasulullah pelayanku telah berbuat kesalahan kepadaku, apakah boleh saya memukulnya? “Maafkanlah dia sehari semalam tujuh puluh kali,” jawab Nabi.</p>
<p>Hadis ini menandaskan, amarah itu tidak boleh dibiarkan begitu saja. Harus ada kontrol. Orang yang tak bisa menahan amarah biasanya lepas kontrol dan berujung petaka. Jadi, meredakan amarah dengan memaafkan bukan berarti membiarkan kesalahan, tapi berstrategi lebih matang menghindar dari petaka.</p>
<p>Ilmu kedokteran juga memandang, amarah justru membawa petaka bagi kesehatan. Gara-gara amarah yang tak terkontrol, tubuh manusia akan kehilangan energi. Lesu, gugup, letih, dan kesal adalah efek negatif yang ditimbulkan amarah. Peredaran darah berjalan cepat, denyut jantung pun bertambah cepat. Akibatnya jantung menjadi lemah.</p>
<p>Selain alasan medis, orang yang bersikap qana`ah lebih hati-hati dalam berfikir dan lebih matang dalam berstrategi. Ini tercermin dalam kisah Umar dan Yusuf, sebut saja begitu. Mereka dua sahabat karib. Saat usia remaja, Umar jatuh cinta pada Aminah. Begitupun Yusuf. Laki-laku itu juga menaruh hati pada dara yang jadi bunga desa di kampungnya itu. Lantaran adanya persaingan kedua perjaka ini persahabatan mereka agak berjarak. Singkat cerita, sang dara yang jadi rebutan lebih memilih Yusuf sebagai teman hidup.</p>
<p>Ini pukulan berat buat Umar. Ia naik pitam. Ingin sekali ia meninju muka yang dulu jadi sahabatnya sejak kecil itu. Untung ia mengurungkan niat. Ia tak meneruskan hasrat yang menjurus ke arah dendam kesumat itu. Haluan hidupnya diputar seratus delapan puluh derajat. Ia rela melepas Aminah.</p>
<p>Umar bertekad memacu dirinya dengan berbagai keahlian dan kemampuan. Ia kembali melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Hingga akhirnya ia menjadi seorang doktor. Tidak hanya itu tentunya, teman hidup pun ia peroleh melebihi segala-galanya jika dibanding Aminah.</p>
<p>Dua cermin di atas, tidak dendam dan tidak menyesal, merupakan ciri khas seorang sufi yang qana`ah, seperti digambarkan ulama dari Universitas Azhar Mesir Muhammad Al-Ghazali Al-Saqa dalam Jaddid Hayâtak, perbaruilah kehidupanmu. “Jika tamak adalah kezaliman, maka qana`ah adalah sebuah kemuliaan,” tegas ulama yang wafat tanggal 9 Maret 1996 itu.</p>
<p><strong></strong></p>
<p><strong><font color="#ff0000">Melatih Kecerdasan Emosi</font></strong></p>
<p>Qana`ah dalam lelakon sufi menduduki tempat yang begitu mendasar. Saking pentingnya Nabi pernah mengatakan, “Qana`ah itu laksana harta yang tak pernah sirna,” katanya dalam riwayat Thabrani. Salah seorang sufi pernah ditanya, Siapakah orang yang paling qana`ah di antara umat manusia? Ia menjawab, yaitu orang yang paling berguna bagi umat manusia dan tidak rakus.</p>
<p>Abu Yazid al-Bistami juga pernah di tanya seseorang, “Bagaimana anda bisa sampai pada kedudukan sekarang ini? “Aku mengumpulkan harta kekayaan dan mengikatnya dengan tali qana`ah. Lalu aku menempatkannya dalam ketepil keikhlasan, dan setelah itu aku lontarkan ke samudera yang berlimpah maaf dan kasih sayang,” jawabnya. Berarti, putus asa dan dendam jelas-jelas sirna dalam diri seseorang yang mampu bersikap qana`ah. Bisa juga dikatakan, qana`ah adalah menghadapi emosi dengan “kepala dingin”.</p>
<p>Jika dikaji lebih dalam, menurut ilmu psikologi, ekspresi seperti <strong><font color="#ff0000">marah, sebal, frustasi, cemburu, iri hati, sedih, gembira, sayang adalah macam-macam emosi</font>.</strong> Mengenali dan mampu mengendalikan emosi, adalah salah satu ciri manusia dewasa dan berkepribadian matang. Anak-anak belum punya kecakapan ini. Karena itu, wajar saja jika ada anak yang menunjukkan emosinya dengan meletup-letup, seperti menangis meraung-raung di tengah keramaian jika keinginannya tak terpenuhi.</p>
<p>Menurut Peter Salovey dan John Mayer, psikolog dari Universitas Harvard dan New Hampshire di AS, kemampuan mengenali dan mengendalikan emosi itulah yang dinamakan kecerdasan emosi atau emotional intelligence (EI).</p>
<p>Jadi, orang dewasa yang tidak dapat mengenali dan mengendalikan emosinya sendiri adalah orang-orang dengan <strong><font color="#ff0000">EI rendah</font></strong>. Untuk pemetaan lebih jelas, ada lima wilayah kecerdasan emosi, yaitu: (1) mengenali emosi sendiri, (2) mampu mengelola emosi itu sesuai situasi dan kondisi, (3) bisa memotivasi diri dengan emosinya, (4) bisa mengenali emosi orang lain, dan (5) mampu membina hubungan baik dengan orang lain.</p>
<p>Emosi adalah sesuatu yang liar dalam diri manusia, karena itu harus dikendalikan. Pengendalian emosi dalam konteks ini bukan berarti menekan bahkan menghilangkan emosi, tapi bagaimana memenej emosi dengan baik. Caranya yaitu, pertama, dengan belajar menghadapi sesuatu dengan pertimbangan matang. Setiap kejadian harus dipikirkan plus minusnya. Jangan sekali-kali bertindak dengan asal-asalan tanpa landasan yang kokoh.</p>
<p>Kedua, memberikan respons terhadap situasi yang dihadapi dengan pikiran maupun emosi yang proporsional. Emosi itu harus sesuai dengan situasi dan diekspesikan dengan cara yang dapat diterima lingkungan sosial. Jangan seenaknya sendiri. Kegagalan pengendalian emosi biasanya terjadi karena kita kurang mau bersusah payah menimbang sesuatu dengan “kepala dingin”.</p>
<p></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/riffal.wordpress.com/142/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/riffal.wordpress.com/142/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/riffal.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/riffal.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/riffal.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/riffal.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/riffal.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/riffal.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/riffal.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/riffal.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/riffal.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/riffal.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/riffal.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/riffal.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/riffal.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/riffal.wordpress.com/142/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riffal.wordpress.com&amp;blog=1459735&amp;post=142&amp;subd=riffal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riffal.wordpress.com/2007/11/30/melejitkan-kecerdasan-emosi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4d8e40c99801cd07be1cee0d2633ffa3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">riffal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Agent Franchise</title>
		<link>http://riffal.wordpress.com/2007/09/14/agent-franchise/</link>
		<comments>http://riffal.wordpress.com/2007/09/14/agent-franchise/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Sep 2007 20:34:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riffal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneur yard]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riffal.wordpress.com/2007/09/14/agent-franchise/</guid>
		<description><![CDATA[Agent Franchise, Peluang Bagi Anda Yang Miskin Ide Tapi Kaya Keberanian !! Suatu sore saat mengajar di kelas Entrepreneur yang penulis kelola, seorang peserta dengan antusias  bertanya, &#8220;Di tengah persaingan produk bisnis yang makin  ketat saat ini, saya sebenarnya sudah ingin sekali segera buka usaha. Masalahnya, saya  merasa miskin ide! Habis nyaris semua ide bisnis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riffal.wordpress.com&amp;blog=1459735&amp;post=139&amp;subd=riffal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><em>Agent Franchise, Peluang Bagi Anda Yang Miskin Ide Tapi Kaya Keberanian !!</em></p>
<p align="justify">Suatu sore saat mengajar di kelas Entrepreneur yang penulis kelola, seorang peserta dengan antusias  bertanya, &#8220;Di tengah persaingan produk bisnis yang makin  ketat saat ini, saya sebenarnya sudah ingin sekali segera buka usaha. Masalahnya, saya  merasa miskin ide! Habis nyaris semua ide bisnis sudah ada yang membuat. Apa bapak masih  melihat peluang dalam kondisi seperti itu?&#8221;.</p>
<p align="justify">&#8220;Tentu saja! Siapa bilang untuk memulai usaha harus dengan ide bisnis yang diciptakan sendiri? Mencontek, dalam pelajaran kelas entrepreneur dibolehkan, bahkan nyaris diwajibkan untuk dijalankan oleh siswa dalam pelajaran nyata memulai bisnis. Jadi, kalau anda merasa miskin ide bisnis, kenapa tidak mencontek, meniru saja bisnis orang lain yang sudah ada, bahkan yang jelas telah terbukti sukses di pasar dan berkembang luas bisnisnya. Nah, namun dalam etika bisnis, mencontek ada aturan mainnya, agar bisnis contekan kita tampil cantik dan elegan, kita mesti mengadopsi aturan itu, namanya, Franchise. Kita bisa minta ijin memakai merek dan sistem pelayanan pemilik usaha yang punya merk bagus dengan membayar <em>good will</em> dan <em>royalti</em> tiap tahunnya pada pemilik merk yang kita pakai&#8221;.</p>
<p align="justify">&#8220;Wah..wah..wah, kalau begitu jelas butuh modal besar pak, apalagi kalau kita mau mem-franchise merk ternama, apalagi yang punya jaringan internasional, bisa milyaran pak modalnya. Itu jelas mustahil bagi kita-kita yang bermodal cekak bahkan yang modal dengkul! Apa masih ada saran lain yang lebih realistis dengan kondisi modal cekak kami pak?&#8221;, ujar sang penanya sambil nyengir.</p>
<p align="justify">&#8220;Oh, tentu saja. Kalau begitu, mengapa tidak anda coba menjadi agent franchise saja, itu pilihan peluang paling tepat bagi anda-anda yang miskin ide, modal cekak tapi kaya keberanian! Berani mencoba?&#8221;, tantang penulis pada semua peserta  yang mungkin masih asing dengan istilah penulis.</p>
<p align="justify">Memang, boleh jadi ini merupakan peluang bisnis baru bagi para calon calon pengusaha yang memiliki tiga kondisi yang penulis klasifikasi diatas. Dengan menjadi <strong>Agent Franchise</strong>, ada dua sasaran yang bisa kita bidik, pertama, kita pertemukan <strong>franchisor</strong>, perusahaan pemberi hak merk yang mau dijual merknya dengan <strong>franchisee</strong>, pihak yang mau memakai merk tersebut, dalam peluang bisnis itu, keuntungan bisa kita dapat dari <strong>fee good will</strong> dan komisi atas <strong>franchise fee</strong> atau <strong>royalti</strong> yang pemberiannya bisa ditentukan tiap bulan atau tiap tahun.  Untuk mereka yang luas pergaulan dan berani dan pintar meyakinkan orang, tidak terlalu sulit menjual merk sebuah usaha yang ternama pada calon-calon pengusaha berduit.</p>
<p align="justify">Sebagai entrepreneur, sasaran pertama ini kurang menantang dan kurang memberi kepuasan bisnis yang membanggakan. Penulis, lebih menyarankan untuk mencoba peluang kedua, membuatkan franchise dan menjualkannya! Ini jelas tantangan bisnis yang menarik. Dalam bisnis ini, kita mesti berburu calon calon usaha yang akan kita buatkan franchisenya, sistem usaha, baik itu pola pelayanan, menjaga kualitas produk dan  kalau perlu kita buatkan merk baru kalau pemilik usahanya merasa menginginkan. Dan dalam hal komisi, berbeda dengan broker bisnis lain, kepiawaian kita mencipta image suatu usaha sebagai sebuah agent franchise bisa mendapat komisi lebih besar bahkan cukup fantastis.  Ada seorang teman alumni EU yang penulis kelola, bahkan mendapat komisi atas franchise yang dijualnya sampai lebih dari 20% padahal broker property atau broker tanah maksimal sesuai aturan cuma dapat 2.5% s/d 3% saja. Tidakkah menjadi agent yang secara gengsi bisnis lebih menantang dan berkelas ketimbang jadi broker bisnis lain lebih menarik? Masalahnya, dari mana mesti dimulai langkah bisnisnya?</p>
<p align="justify">Tak perlu pusing membaca banyak buku-buku tentang membuat franchise yang jitu atau membuang list panjang nama atau jenis–jenis usaha yang mau kita bikinkan franchisenya. Ada dua trik mudah untuk segera mewujudkan ide anda  menjadi  seorang agent franchise. Carilah usaha apapun yang dalam lima tahun terakhir terus laris dan karena itu pasti laku dijual merknya. Kalaupun ada kekawatiran pemiliknya menolak buka cabang sebagai konsekuense dari usaha yang di-franchise-kan, bisa dibicarakan dengan hati-hati atau kalau perlu dibicarakan lewat anak-anak sang perintis usaha yang lebih modern pemikirannya. Ini biasa terjadi pada usaha-usaha produk makanan atau layanan jasa tradisonal seperti warung soto atau  layanan kesehatan tradisonal.</p>
<p align="justify">Biasanya, perintisnya takut kalau dibuat cabang baru, maka outlet lama akan sepi pembeli dan mengganggu kinerja penjualan, itu semua tak akan terjadi kalau kualitas dijaga dan layanan sama kualitasnya. Itulah ciri khas usaha dengan franchise, asal dibawah merk usaha yang sama dijamin konsumen akan mendapat produk dan jasa yang sama kualitasnya dimanapun bisa didapat di berbagai tempat.</p>
<p align="justify">Untuk menyempurnakan produk franchise yang mau kita bikin dan jual, jangan malu dan takut untuk ketemu dan berguru pada mereka yang sudah jago membuat usaha waralaba, ajak diskusi untuk berbagi ilmu, ingat, mencontek ilmu bukan pantangan dalam bisnis. Kalau mau bikin salon yang bagus, temui Johny Andrian atau Rudi Hadisuwarno, kalau perlu contek ilmu dan gaya salonnya, mirip–mirip  sedikit tak masalah. Juga kalau mau bikin restoran, bisa mencontek merk kenamaan atau ajak Ny Suharti atau Puspo Wardoyo (Bos Ayam bakar Wong Solo) untuk berbagi ilmu.</p>
<p align="justify">Kalau semua sudah oke, kita tinggal atur sistem waralaba, atau franchisenya, berapa persis bagian kita, franchisor dan franchise. Ada peserta entrepreneurs yang penulis kelola yang kini sudah sukses menjual franchise sekolah musik yang dimiliki oleh seorang musisi ternama. Nampaknya dengan polesan bisnis yang tepat, nama, sang musisi yang dijadikan merk sekolah musiknya memudahkan untuk menjual franchise sekolah musiknya, yang kini mulai banyak diminati di berbagi kota besar. Bahkan, kalau kita jeli, fee franchise kita, bisa dikonversi dengan harga satu paket good will, franchise merk yang kita jual. Jadi mula-mula kita jadi agentnya, lama-lama kita beli franchisenya untuk kita buka sendiri. Jadi jangan terlalu lama dipikir, mulailah bisnis dengan menjadi agent franchise!!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/riffal.wordpress.com/139/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/riffal.wordpress.com/139/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/riffal.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/riffal.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/riffal.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/riffal.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/riffal.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/riffal.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/riffal.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/riffal.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/riffal.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/riffal.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/riffal.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/riffal.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/riffal.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/riffal.wordpress.com/139/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riffal.wordpress.com&amp;blog=1459735&amp;post=139&amp;subd=riffal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riffal.wordpress.com/2007/09/14/agent-franchise/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4d8e40c99801cd07be1cee0d2633ffa3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">riffal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jadi Pengusaha Tanpa Gelar</title>
		<link>http://riffal.wordpress.com/2007/09/14/jadi-pengusaha-tanpa-gelar/</link>
		<comments>http://riffal.wordpress.com/2007/09/14/jadi-pengusaha-tanpa-gelar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Sep 2007 20:33:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riffal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneur yard]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riffal.wordpress.com/2007/09/14/jadi-pengusaha-tanpa-gelar/</guid>
		<description><![CDATA[Tanpa gelar pun kita bisa jadi pengusaha sukses Sejak dulu, saya memang suka baca kisah sukses tokoh-tokoh terkenal di dunia maupun di Indonesia. Seperti John E. Rockefeller, Raja Minyak dari Amerika. Kesuksesan usahanya bukan karena ia punya gelar. Ia terpaksa meninggalkan sekolahnya saat usia 16 tahun karena tekanan ekonomi keluarganya. Tapi, karena ia seorang yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riffal.wordpress.com&amp;blog=1459735&amp;post=138&amp;subd=riffal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><em>Tanpa gelar pun kita bisa jadi pengusaha sukses</em></p>
<p align="justify">Sejak dulu, saya memang suka baca kisah sukses tokoh-tokoh terkenal di dunia maupun di Indonesia. Seperti John E. Rockefeller, Raja Minyak dari Amerika. Kesuksesan usahanya bukan karena ia punya gelar. Ia terpaksa meninggalkan sekolahnya saat usia 16 tahun karena tekanan ekonomi keluarganya. Tapi, karena ia seorang yang tekun, serius dalam bekerja, menyukai tantangan dan perjuangan, membuatnya jadi pengusaha yang sukses dan salah satu yang terkaya di dunia.</p>
<p align="justify">Begitu juga, Matshushita Konosuke, pengusaha elektronik terbesar di Jepang. Ia juga tak bergelar. Akibat ekonomi keluarganya, anak petani ini terpaksa tak bisa menyelesaikan studinya di pendidikan dasar. Namun, berkat kemauan dan kerja kerasnya, ia pun membuktikan mampu jadi pengusaha sukses. Hal yang sama juga terjadi pada Bill Gates, yang sukses dengan Microsoft-nya. Dia malah drop-out adri Harvard University.</p>
<p align="justify">Pengusaha kita yang dikenal dengan bisnis Es Teler 77 dan Mie Tek Tek, Sukayatno Nugroho, MBA, juga tak bergelar. Di sekolah, ia hanya ranking 40 dari 50 murid. Ijazahnya cuma sampai SMP, karena dia cuma tahan 3 bulan di kelas 1 SMA. Kalau pun di belakang namanya ada MBA, itu pun bukan Master of Business Administration. Tapi, singkatan dari: &#8220;Manusia Bisnis Asal-asalan&#8221;. Dan nyatanya, ia pun juga bisa sukses jadi pengusaha. Bob Sadino, demikian juga. Dulunya, ia mantan buruh kapal barang, supir taksi dan penjual telur. Akan tapi karena ia tak ingin hidup malas-malasan dan tak ingin gengsi-gengsian, akhirnya membuatnya sukses sebagai pengusaha supermarket Kem Chick&#8217;s.</p>
<p align="justify">Dan, masih banyak contoh pengusaha sukses lainnya yang menunjukkan, bahwa tanpa gelar sarjana pun kita bisa jadi pengusaha sukses. Apalagi, pada dasarnya, seseorang itu untuk bisa jadi pengusaha sukses tak perlu harus punya gelar dulu. Saat masih mahasiswa, kita bisa jadi pengusaha. Begitu juga, mereka yang sudah pensiunan maupun ibu rumah tangga, juga bisa jadi pengusaha. Dan, untuk jadi pengusaha tentu kita tak akan pernah melamar pekerjaan, karena kita sudah punya usaha sendiri. Oleh karena itulah, pendidikan di &#8220;Entrepreneur University&#8221; tanpa gelar. Artinya, tanpa gelar pun kita bisa jadi pengusaha.</p>
<p align="justify">Saya yakin, jika kita mau kerja keras, seperti yang dicontohkan oleh pengusaha sukses yang saya sebut di atas, saya kira usaha kita akan berhasil. Jadi gelar seseorang tak menjamin, bisnisnya berhasil. Bahkan, mereka yang punya gelar, dan IP-nya tinggi cenderung kebanyakan mudah mendapatkan pekerjaan. Artinya, ia lebih memilih menjadi dosen, pegawai negeri atau karyawan perusahaan swasta. Kalau jadi pengusaha, kerap kali bisnisnya sulit maju.</p>
<p align="justify">Itu karena, ia telah banyak tahu apa resiko bisnis yang akan dihadapinya, terlalu banyak dipikir. Akhirnya, ia tak berani menghadapi resiko bisnis. Maka, ia lebih memilih menjadi dosen, pegawai negeri, karyawan perusahaan swasta. tapi saya melihat, sosok yang layak menjadi pengusaha justru mereka yang berani menghadapi resiko. Kalau ada tantangan, ia mencoba untuk tidak gampang menyerah. Karena itu, gelar seseorang tak menjamin bisa jadi pengusaha. Tapi, sebaliknya, yang tak bergelar justru banyak yang jadi pengusaha.</p>
<p align="justify">Pendeknya, tanpa gelar pun kita bisa jadi pengusaha sukses asal saja kita berani melangkah untuk memulai usaha. Dan, kalupun kita sudah punya usaha, kita juga ada keberanian untuk mengembangkan bisnis tersebut lebih maju lagi. Atau mungkin saja, kita coba untuk buka bisnis baru yang lebih menantang.***</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/riffal.wordpress.com/138/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/riffal.wordpress.com/138/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/riffal.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/riffal.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/riffal.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/riffal.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/riffal.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/riffal.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/riffal.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/riffal.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/riffal.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/riffal.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/riffal.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/riffal.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/riffal.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/riffal.wordpress.com/138/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riffal.wordpress.com&amp;blog=1459735&amp;post=138&amp;subd=riffal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riffal.wordpress.com/2007/09/14/jadi-pengusaha-tanpa-gelar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4d8e40c99801cd07be1cee0d2633ffa3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">riffal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tanpa Ujian Tanpa Nilai</title>
		<link>http://riffal.wordpress.com/2007/09/14/tanpa-ujian-tanpa-nilai/</link>
		<comments>http://riffal.wordpress.com/2007/09/14/tanpa-ujian-tanpa-nilai/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Sep 2007 20:32:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riffal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneur yard]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riffal.wordpress.com/2007/09/14/tanpa-ujian-tanpa-nilai/</guid>
		<description><![CDATA[Yang berhak menilai pengusaha adalah masyarakat Respon dari masyarakat terhadap berdirinya &#8220;Entrepreneur University&#8221;, ternyata luar biasa. Terbukti, dengan banyaknya orang yang menyatakan ingin masuk. Terutama, mereka tertarik pada lembaga pendidikan entrepreneurship ini, antara lain karena tanpa ujian, tanpa nilai. Itu artinya apa? Bahwa , mungkin kalau harus ada ujian, ada nilai, maka nanti harus diwajibkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riffal.wordpress.com&amp;blog=1459735&amp;post=137&amp;subd=riffal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><em>Yang berhak menilai pengusaha adalah masyarakat</em></p>
<p align="justify">Respon dari masyarakat terhadap berdirinya &#8220;Entrepreneur University&#8221;, ternyata luar biasa. Terbukti, dengan banyaknya orang yang menyatakan ingin masuk. Terutama, mereka tertarik pada lembaga pendidikan entrepreneurship ini, antara lain karena tanpa ujian, tanpa nilai. Itu artinya apa? Bahwa , mungkin kalau harus ada ujian, ada nilai, maka nanti harus diwajibkan untuk menghafal, mengingat. Hal itu saya kira berbeda kalau kita mendidik seseorang untuk menjadi pengusaha.</p>
<p align="justify">Menurut saya, yang berhak menilai pengusaha itu memiliki kredibilitas, sukses, dan eksis usahanya, itu adalah masyarakat. Bagaimana pengusaha itu membangun kepercayaan itu dengan performance perusahaannya. Sehingga, bukan pada pengertian, orang itu dinilai pada pengetahuan semata. Barangkali itulah kelemahan sistim pendidikan kita, terutama sekolah kita yang memberlakukan ujian, dan tidak memperbolehkan contekan, walaupun kenyataannya sulit untuk kita tidak berperilaku menyontek.</p>
<p align="justify">Sementara itu, dalam dunia riil bisnis, yang namanya bertanya itu boleh-boleh saja. Bahkan, menyontek usaha orang lain pun sah-sah saja. Meniru kiat-kiat sukses pengusaha lain pun juga boleh. Nggak ada yang melarang. Menurut saya, calon pengusaha seperti itu justru sosok pengusaha yang kreatif. Sehingga dalam sistem pendidikan di sini yang ingin saya terapkan adalah bagaimana sebaiknya perilaku-perilaku semacam itu berubah menjadi bagian dirinya. Sementara, kalau materi kuliah yang kami berikan itu lantas diujikan, itu berarti sama halnya dengan menguji pengetahuan.</p>
<p align="justify">Kalau kita pakai ujian, kita diajarkan untuk berpikir linier. Padahal, untuk jadi pengusaha kita lebih ditekankan berpikir lateral. Jadi, menurut saya yang terpenting adalah, bagaimana agar nilai-nilai entrepreneurship itu jadi jiwanya. Artinya, tidak hanya otak berpikirnya saja yang dikembangkan, tapi juga otak emosionalnya.</p>
<p align="justify">Oleh karena itulah, konsentrasi pendidikan di &#8220;Entrepreneur University&#8221; ini adalah lebih pada pengembangan kecerdasan emosional, kecerdasan adversity, kecerdasan spiritual, termasuk mempertajam kreativitas dan intuisi bisnis. sehingga, materi yang kita berikan tidak sekedar sebagai pengetahuan, tapi bagaimana nilai-nilai kewirausahaan, seperti: pantang menyerah, punya semangat tinggi, selalu kreatif dan inovatif, tajam intuisinya, berani menghadapi resiko bisnis, dan jeli melihat peluang bisnis, itu bisa menjadi bagian dari diri para peserta program ini.</p>
<p align="justify">Dengan demikian, kenapa harus ada ujian, ada nilai? Katakanlah, nilai pengetahuan entrepreneurship seseorang itu baik, tapi kenyataannya sering dalam hal berprilaku lain. Misalnya, mudah patah semangat, tidak kreatif dan tidak mau menekuni usaha itu dengan baik. Nah, saya tentunya ingin menjembatani hal itu semua. Bagaimana, agar nilai-nilai entrepreneurship bisa ditumbuhkan menjadi jiwa para peserta. Tentu saja, saya akan memberikan solusinya. Maka tak mengherankan, kalau sistem belajarnya di &#8220;Entrepreneur University&#8221; salah satu yang kita tekankan adalah, bagaimana para peserta itu banyak bertanya dan bukan hanya menjawab. Bagaimana para peserta tidak takut mencoba. Bagaimana para peserta bukan hanya kaya ide, tapi miskin keberanian mencoba.</p>
<p align="justify">Saya yakin, dengan mereka berani bertanya dan berani mencoba, hal itu akan memunculkan kreativitas dan intuisi yang tajam. Dengan, kreativitas dan intuisi yang tajam, maka akan memunculkan ide-ide bisnis yang baru dan berani mencobanya. Dan, yang tak kalah pentingnya adalah pada program mentoring yang akan kita jalankan. Artinya, bagaimana para peserta itu berinteraksi langsung dengan para pengusaha, sehingga dapat belajar bagaimana berprilaku atau bertindak seperti pengusaha.***</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/riffal.wordpress.com/137/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/riffal.wordpress.com/137/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/riffal.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/riffal.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/riffal.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/riffal.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/riffal.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/riffal.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/riffal.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/riffal.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/riffal.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/riffal.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/riffal.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/riffal.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/riffal.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/riffal.wordpress.com/137/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riffal.wordpress.com&amp;blog=1459735&amp;post=137&amp;subd=riffal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riffal.wordpress.com/2007/09/14/tanpa-ujian-tanpa-nilai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4d8e40c99801cd07be1cee0d2633ffa3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">riffal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menciptakan Pengusaha Baru</title>
		<link>http://riffal.wordpress.com/2007/09/14/menciptakan-pengusaha-baru/</link>
		<comments>http://riffal.wordpress.com/2007/09/14/menciptakan-pengusaha-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Sep 2007 20:30:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riffal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneur yard]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riffal.wordpress.com/2007/09/14/menciptakan-pengusaha-baru/</guid>
		<description><![CDATA[Kalau perlu, ada universitas di Indonesia, yang mendidik calon pengusaha tanpa aturan formal. Saya sepakat dengan Peter Drost, penulis buku &#8220;Reformasi Pengajaran&#8221;, yang mengungkapkan, bahwa pendidikan di Indonesia tampaknya hanya untuk orang yang pandai-pandai saja, atau yang menonjol nilai akademisnya. Sedangkan pendidikan yang betul-betul diprioritaskan untuk orang yang nilai akademisnya sedang-sedang atau rendah, ternyata belum [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riffal.wordpress.com&amp;blog=1459735&amp;post=136&amp;subd=riffal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><em>Kalau perlu, ada universitas di Indonesia, yang mendidik calon pengusaha tanpa aturan formal.</em></p>
<p align="justify">Saya sepakat dengan Peter Drost, penulis buku &#8220;Reformasi Pengajaran&#8221;, yang mengungkapkan, bahwa pendidikan di Indonesia tampaknya hanya untuk orang yang pandai-pandai saja, atau yang menonjol nilai akademisnya. Sedangkan pendidikan yang betul-betul diprioritaskan untuk orang yang nilai akademisnya sedang-sedang atau rendah, ternyata belum digarap secara serius.</p>
<p align="justify">Sedangkan pendidikan di universitas kita sekarang ini &#8211; terutama yang mengutamakan nilai akademis sebagai indikator keberhasilan &#8211; cenderung menghasilkan &#8220;tukang-tukang&#8221; seperti: &#8220;tukang insinyur, tukang dokter&#8221;, dan lain sebagainya. &#8220;Tukang-tukang&#8221; tersebut hanya pandai mencari pekerjaan, tetapi bukan menciptakan pekerjaan. Padahal menurut saya, di era otonomi daerah saat ini, pendidikan entrepreneur-ship sanagat dibutuhkan. Karena, dengan pendidikan tersebut, sebenarnya akan banyak menciptakan pengusaha-pengusaha baru. Itu tak bisa ditawar-tawar lagi. Tak hanya penting, tapi sangat mendesak. Maka sebaiknya, iklim menekuni dunia usaha harus diciptakan.</p>
<p align="justify">Melihat kondisi ini, saya kira perlu ada upaya menciptakan pengusaha baru. Sebab, menurut saya, menjadi pengusaha itu bukan diajarkan tetapi dididik dalam pengertian non formal. Sehigga, perlu ada solusi, yaitu bagaimana kita membuat pendidikan untuk menciptakan orang jadi pengusaha. Apalagi di Indonesia, dalam kaitannya dengan pemberlakuan otonomi daerah, tentu akan sangat banyak dibutuhkan pengusaha-pengusaha baru yang muncul di daerah.</p>
<p align="justify">MEnurut saya, hal itu bisa diberikan lewat model pendidikan, yang bukan saja mengandalkan pada pengetahuan atau otak berpikir, tetapi juga otak emosional. Termasuk bagaimana mencerdaskan emosi kita, dan bagaimana menyelaraskan otak berpikir dengan otak emosional. Sementara universitas yang ada, hanya menciptakan calon pencari kerja, bukan pencipta kerja.</p>
<p align="justify">Padahal, semestinya di negara kita membutuhkan banyak pengusaha. Dan, kita sebaiknya jangan punya perasaan khawatir dengan bermunculannya pengusaha baru. Karena nantinya, mereka akan menciptakan lapangan kerja baru. Kalau kemudian negara kita lebih banyak pengusahanya daripada pekerjanya, maka kita bisa menimpor tenaga kerja dari luar negeri. Bukan sebaliknya, kita harus mengekspor tenaga kerja kita ke luar negeri seperti sekarang ini.</p>
<p align="justify">Sebenarnya, sudah ada beberapa pengusaha kita, yang tidak hanya sekedar memikirkan, tetapi juga telah menciptakan orang-orang untuk menjadi pengusaha baru. Saya sendiri, juga telah melakukan. Misalnya ada manager di perusahaan saya yang punya jiwa entrepreneur, maka saya tidak ragu memendirikan dia dengan tanggung jawab pada usaha baru. Apalagi jika dirinya mempunyai potensi besar menjadi pengusaha.</p>
<p align="justify">Oleh karena itu, saya katakan, bahwa keberadaan universitas yang mendidik calon pengusaha itu sangat mendesak sekali. Kalau perlu, universitas yang mendidik calon pengusaha itu, tidak perlu menggunakan aturan formal. misalnya, tanpa status, tanpa akreditasi, tanpa dosen, tanpa ijasah, tanpa gelar. Dan, wisudanya pun dilakukan, setelah mereka benar-benar membuka usaha dalam waktu tertentu.</p>
<p align="justify">Sedang calon mahasiswa atau mahasiswinya, diutamakan justru yang mempunyai IP 9indeks prestasi) atau NEM 9nilai Ebtanas Murni) sedang dan rendah. Sebab, bisa jadi dengan pradigma pemikiran pendidikan seperti ini, akan menjadi model pendidikan di Indonesia di masa datang. Dan bukan tidak mungkin, hal itu juga akan menjadi model pendidikan di dunia, khususnya bagi pendidikan calon pengusaha.</p>
<p align="justify">Maka saya kira sudah saatnya, sekarang ini disiapkan universitas yang mendidik orang menjadi pengusaha, melalui &#8220;kurikulum dan sistem: yang diciptakan oleh pengusaha.***</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/riffal.wordpress.com/136/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/riffal.wordpress.com/136/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/riffal.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/riffal.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/riffal.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/riffal.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/riffal.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/riffal.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/riffal.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/riffal.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/riffal.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/riffal.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/riffal.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/riffal.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/riffal.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/riffal.wordpress.com/136/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riffal.wordpress.com&amp;blog=1459735&amp;post=136&amp;subd=riffal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riffal.wordpress.com/2007/09/14/menciptakan-pengusaha-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4d8e40c99801cd07be1cee0d2633ffa3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">riffal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mega Entrepreneur</title>
		<link>http://riffal.wordpress.com/2007/09/14/mega-entrepreneur/</link>
		<comments>http://riffal.wordpress.com/2007/09/14/mega-entrepreneur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Sep 2007 20:29:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riffal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneur yard]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riffal.wordpress.com/2007/09/14/mega-entrepreneur/</guid>
		<description><![CDATA[Ikut memikirkan atau mendorong munculnya pengusaha baru, sama pentingnya dengan upaya memajukan bisnis kita. Kegairahan kita untuk menciptakan [pengusaha baru, terutama yang bisnisnya sudah mapan, memang sudah tampak sekarang ini. hanya saja, menurut saya, hal itu sebaiknya harus lebih digalakan lagi. Dan, itu sebagai salah satu pertanda, bahwa sesungguhnya pengusaha kita tidak sekedar antusias dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riffal.wordpress.com&amp;blog=1459735&amp;post=135&amp;subd=riffal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><em>Ikut memikirkan atau mendorong munculnya pengusaha baru, sama pentingnya dengan upaya memajukan bisnis kita.</em></p>
<p align="justify">Kegairahan kita untuk menciptakan [pengusaha baru, terutama yang bisnisnya sudah mapan, memang sudah tampak sekarang ini. hanya saja, menurut saya, hal itu sebaiknya harus lebih digalakan lagi.</p>
<p align="justify">Dan, itu sebagai salah satu pertanda, bahwa sesungguhnya pengusaha kita tidak sekedar antusias dalam memajukan bisnisnya, tetapi juga mempunyai tanggung jawab sosial yang tinggi. Sosok pengusaha seperti inilah, pantas kita sebuat Mega Entrepreneur.</p>
<p align="justify">Saya sendiri mengakui, bahwa pola pikir pengusaha kita yang setiap harinya terbiasa berotak isnis, lantas juga mempunyai jiwa sosial, itu bukanlah tugas ringan. Setidaknya, jika kita sadar betul, bahwa sesungguhnya ikut memikirkan atau mendorong munculnya pengusaha baru, sama pentingnya dengan upaya memajukan bisnis kita. Maka dari itu tak ada salahnya kita melakukannya.</p>
<p align="justify">Saya optimis, kehadiran pengusaha baru di dunia usaha kita, akan menambah kegairahan dunia usaha kita. Dan, tak mustahil, pengusaha baru itu pun nantinya akan menciptakan pengusaha baru lagi. Sehingga, kehadiran mega Entrepreneur tidak hanya sekedar menciptakan lapangan kerja, tetapi juga bisa menciptakan pengusaha baru. Langkah Mega Entrepreneur seperti itu, pada akhirnya juga akan berdampak pada tumbuhnya perekonomian kita yang lebih baik.</p>
<p align="justify">Karena itu, mengapa saya berani mengatakan, bahwa sosok Mega Entrepreneur itu sesungguhnya adalah sosok pengusaha yang benar-benar memiliki tugas mulia. Maka, tak ada salahnya bagi kita, untuk berbuat seperti Mega Entrepreneur.</p>
<p align="justify">Sebenarnya menurut saya, sudah cukup banyak pengusaha kita telah mempunyai kesadaran untuk membimbing karyawannya, manager-nya, saudaranya, atau relasinya untuk dijadikan pengusaha. dalam hal ini, pengusaha membimbingnya dan merangkap menjadi mentor-nya. cara lain, misalnya pengusaha bisa memberikan franchise atau menjual merek pada orang lain.</p>
<p align="justify">Saya yakin dengan hal tersebut, dunia usaha kita akan bergairah, jika kita memiliki Mega Entrepreneur. Selain itu, hal tersebut juga akan makin menumbuh kembangkan perekonomian kita. Kalaupun pengusaha baru yang kita ciptakan itu, misalnya, ternyata usahanya bisa elebihi usaha kita, semestinya kita harus bangga dan bersyukur. Sebab, pada dasarnya, kehadiran pengusaha itu masing-masing telah membawa rejekinya masing-masing.***</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/riffal.wordpress.com/135/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/riffal.wordpress.com/135/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/riffal.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/riffal.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/riffal.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/riffal.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/riffal.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/riffal.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/riffal.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/riffal.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/riffal.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/riffal.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/riffal.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/riffal.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/riffal.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/riffal.wordpress.com/135/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riffal.wordpress.com&amp;blog=1459735&amp;post=135&amp;subd=riffal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riffal.wordpress.com/2007/09/14/mega-entrepreneur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4d8e40c99801cd07be1cee0d2633ffa3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">riffal</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
