9 dari 10 Kekayaan Ada di Tangan Pedagang

Enterpreneurship (kewirausahaan), dalam beberapa tahun terakhir menjadi topik yang makin sering dibicarakan. Krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak pertengahan 1997 telah mengajarkan kepada masyarakat bahwa menggantungkan harapan kepada orang lain (bekerja pada orang lain) sudah bukan lagi pilihan utama sebagaimana yang selama ini selalu diajarkan oleh para orang tua kita sejak kita masih kecil. Krisis ekonomi telah menimbulkan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang menimpa jutaan pegawai. Angka pengangguran melonjak drastis. Baik mereka yang menganggur karena belum juga dapat pekerjaan, baru lulus kuliah, maupun para penganggur baru yang berasal dari perusahaan-perusahaan yang bangkrut.

Di sisi lain, krisis ekonomi telah menumbuhkan ”berkah” berupa lahirnya para enterpreneur (wirausahawan) baru. Mereka ini adalah orang-orang yang jeli melihat peluang, dan tak gamang menghadapi kesulitan-kesulitan. Ketika banyak orang meratapi nasibnya yang malang akibat terkena PHK dan tak juga dapat pekerjaan, mereka mengarahkan segenap daya dan upaya untuk menciptakan lapangan kerja bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Mereka menyadari bahwa jalan untuk meraih sukes, kekayaan maupun kebahagiaan bukanlah dengan menjadi kuli, melainkan menjadi bos bagi diri sendiri dan orang lain. Mereka menyadari bahwa rezeki itu sebagian besar ada di tangan pengusaha, bukan di tangan pekerja. ”Nabi Muhammad pernah mengatakan bahwa sembilan dari 10 kekayaan berada di tangan pedagang, sedangkan sisanya yang hanya satu bagian itu dibagi-bagi di antara sekian banyak orang yang lebih memilih menjadi pekerja,” kata Presiden Direktur/CEO PT Foodland Adam Mandiri Islami (Foodland), Novian Mas’ud pada pembukaan showroom Foodland Shohib dan Stock Center Manajemen Qolbu Barokah di Cipondoh, Tangerang, pekan lalu. Karena itulah, kata Novian, masyarakat kini sebaiknya lebih memperhatikan aspek pengembangan ekonomi, khususnya bidang kewirausahaan. ” Nabi menganjurkan umatnya untuk menjadi pengusaha, bukan menjadi pekerja,” tandasnya.

Novian menambahkan, sejarah pengembangan Islam di zaman Rasulullah penuh dengan contoh para konglomerat yang mengembangkan bisnisnya untuk kepentingan masyarakat luas. ” Kita mengenal nama-nama seperti Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf. Mereka adalah konglomerat di zamannya. Istri Rasulullah, Siti Khadijah juga merupakan konglomerat,” paparnya. Menurut Novian, para konglomerat Muslim di masa lalu telah menerapkan prinsip-prinsip ekonomi syariah, yang dilandasi pada dua hal, yakni halal dan thoyyib. Artinya, bisnis tersebut tidak hanya halal, tapi juga harus baik. Baik sumbernya, prosesnya, maupun hasil akhirnya. ” Salah satu aplikasi ekonomi syariah itu adalah ritel syariah,” kata pengusaha yang sejak Desember 2004 mengembangkan showroom Foodland Shohib dan sedang menyiapkan pendirian hipermarket halal Foodland.

Hal senada dinyatakan oleh KH Idup Indrawan, pimpinan Yayasan Yatim Al Mubarok, Cipondoh, Tangerang. ” Rasullah, sejak masa mudanya telah menekankan pentingnya berbisnis. Beliau telah merintis usaha bisnis sejak masih usia belasan tahun. Beliau juga telah mencontohkan bagaimana cara berbisnis yang baik, yakni bisnis yang dilandasi oleh kejujuran dan keterbukaan, aman dan kecerdasan, sehingga Beliau digelari Al Amin, artinya orang yang dapat dipercaya,” tegasnya. Menurut Idup Indrawan, kewirausahaan menjadi sangat penting bagi umat Muslim untuk mengejar ketertinggalannya di bidang ekonomi. ”Selama ini umat Islam hanya menjadi penonton, sehingga ekonomi dikuasai oleh umat lain. Kalau umat Islam ingin bangkit dari ketertinggalan di bidang ekonomi, maka umat Islam harus mengarahkan kembali perhatiannya pada bidang ekonomi seperti yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat dahulu,” tandasnya.

Pemilik Foodland Shohib dan Stock Center Cipondoh, Masrukin mengatakan pada dasarnya setiap orang mempunyai bakat untuk berbisnis. ” Asalkan kita menyadari potensi kita dan mau bersatu, insya Allah kita bisa menjadi pengusaha yang berhasil,” tuturnya. Masrukin lalu mencontohkan falsafah jari-jari tangan. Ibu jari berarti setiap orang punya kekuatan dan potensi. Telunjuk berarti motivasi. Jari tengah menandakan perlunya keseimbangan antara dunia dan akhirat, jasmani dan rohani. Jari manis bisa tegak kalau ditopang oleh tangan yang satu lagi, artinya perlu kolaborasi dengan pihak lain. Sedangkan kelingking, sebagai jari yang paling kecil mengandung falsafah jangan sampai hal-hal kecil mengganggu suatu usaha bisnis. ” Semua jari itu bisa mengepal bila ditopang oleh telapak tangan. Artinya, untuk sukses bisnis, kita harus bersatu. Sumberdaya yang ada harus dikelola dengan baik. Artinya, perlu manajemen yang baik,” ujar Masrukin.

Oleh: Panca
Sumber Republika Senin, 16 Mei 2005  14:03:00

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: