Jejak Panjang Para Jawara

Kisah Sukses Dedengkot Pemegang Waralaba Kelas Dunia
Perlu waktu bertahun-tahun dan harus melewati serangkaian tes melelahkan agar bisa menjadi pemegang waralaba kelas dunia. Hasilnya memang sepadan karena keuntungan  mengalir tiada henti. Simak kisah para jawara pemegang waralaba dunia.

Siapa yang tk kenal dengan McDonald’s, Starbuck, dan Breadtalk? Ketiganya sudah sangat melekat dalam ingatan kita. McDonald’s adalah merek hamburger Amerika yang kini sudah mendunia. Starbuck merujuk pada kedai kopi elite kelas mall dari negeri yang sama. Breadtalk adalah merk roti dari negara tetangga Singapura.

Jumlah gerai franchise top itu terus bertambah dan makin mudah kita jangkau. Tapi untuk membawa nama-nama tersebut ke Indonesia dan jadi akrab di kuping perlu waktu yang sangat panjang dan melewati jalan yang berliku. Butuh kerja keras dan modal yang besar, hingga kelihaian melobi agar merek-merek yang sudah melanglang buana itu bersedia mampir di Indonesia.

Tanyakan saja pada Bambang N Rachmadi saat melamar McDonald’s. cobalah meminta Matheus Rukmasaleh Arif dan Boyke Gozali berbagi cerita saat mereka meminang Starbuck. Anda perlu menyimak pula penuturan Johnny Andrean yang tukang salon ketika ingin menggaet Breadtalk. “Wah, berat. Syaratnya ketat banget,” kata Ake Arif, sapaan Rukmasaleh seolah mewakili suara mereka.

Yang kita tahu, hasil jerih payah mereka tidak sia-sia. Orang jawa menyebutnya cucuk, dan kita bilang impas. Buktinya, Bambang bisa meraih omzet entah berapa miliar rupiah setiap tahun dari dari ratusan kedai McD yang dia miliki. Jumlah outlet Starbuck juga sudah mencapai 60 hanya dalam waktu empat tahun. Dan ribuan pembeli yang tetap rela  antri di depan gerai Breadtalk, menunjukan bisnis roti ini mendatangkan untung.

Jadi Pembersih Toilet Untuk Melamar McD
Bambang, misalnya harus bersaing dengan 39 pelamar lain agar bisa menjadi pemegang waralaba McD untuk Indonesia. Kisahnya bermula pada tahun 1988. selepas jabatanya sebagai Presiden Direktur Bank Panin,pria bertubuh tinggi besar yang bisa disapa Toni ini berniat membuka usaha sendiri. Setelah menguping dan melirik sana-sini, Toni terpikat untuk menjadi pemegang lisensi restoran hamburger tersohor sejagat di Indonesia. Alasanya sederhana, jaringan hamburger bermerek itu begitu sukses di seluruh muka bumi tapi belum ada di Indonesia.

Ia lantas mengajukan lamaran ke kantor pusat McD di Illinois Amerika Serikat. Setahun lamanya lamaran tak berbalas. Setelah bosan menunggu, Toni mengubah strategi menggunakan jalur lobi. Kebetulan, McDonald’s Singapura jadi salah satu pengiklan Stasiun Radio Ramako miliknya yang mengudara di Batam. Ia lantas menemui pemilik franchise McDonald’s Singapura, Bobby Kwan, agar bersedia memberi rekomendasi.

Rupanya Bobby tak keberatan dan merekomendasikannya agar bertemu dengan Peter Richie, pengelola McDonald’s Australia. Kebetulan, Richie adalah orang-orang yang bertugas untuk mencari mitra di Indonesia. Toni memang berhasil bertemu Richie. Tapi bukan berarti dia sudah memegang lisensi McD. Sebab, mantan direktur keuangan Bank Duta ini masih harus mengikuti tes di Singapura dan bersaing dengan 39 pelamar lain dari Indonesia.

Di negeri Singa dia harus menjalani sebuah ujian yang sangat berat. Bayangkan saja, seorang bekas dirut bank terkemuka harus menjadi tukang pel dan pembersih toilet di sebuah restoran. Masalahnya bukan hanya harus bekerja berat sampai di atas 12 jam,tapi dia juga harus berhadapan dengan orang- orang Indonesia yang banyak berkunjung  ke sana. “Mereka yang mengenal saya bingung, kenapa saya jadi pelayan di sana,” katanya mengenang.

Toni memang bisa lulus dari ujian berat tersebut, tapi masih harus menyisihkan 19 peserta sisa yang sama-sama lolos penyaringan di Singapura. Mereka lantas menjalani tas pamungkas di Sydney Australia untuk menentukan pemenang. Hasil akhirnya, bambanglah yang berhak mengantongi lisensi untuk membuka McD di Indonesia.

Dengan modal awal Rp 3 miliar, ia pun membuka restoran McDonald’s di gedung Sarinah, Jakarta pusat. Pilihanya tak salah. Dari yang semula satu restoran, gerai-gerai McD lantas beranak pinak puluhan hingga ratusan buah. Toni sekarang sudah berhasil menancapkan gerai burgernya hingga lebih dari 110 gerai di seantero Indonesia.

Lima Tahun Melamar Starbuck
Perjuangan Toni nan panjang dan melelahkan sudah pasti tak sia-sia. McD jadi tambang emas PT Ramako Gerbang Mas, induk usaha milik suami Sri Adyanti Soedharmono tersebut. Diperkirakan omzet mencapai lebih dari 3 miliar sehari dari hasil penjualan burger, kentang dan ayam goreng.

Menanti bertahun-tahun juga harus dilalui oleh Ake Arif dan Boyke Gozali ketiak meminang keai kopi kelas mal bernama Starbuck. “Kalau enggak salah ingat, izin baru turun setelah empat hingga lima tahunan dari awal proposal kami masukan,” ucap Ake, mengingat. Ide mengaet kedai kopi modern ini  bermula ketika

Boyke masih berada di Amerika. Boyke lantas berpikiran untuk membawanya ke Indonesia. Selama masa menanti, mereka harus bisa meyakinkan petinggi Starbuck di Seatttle agar bersedia berbagi waralaba dengan mereka. Sejumlah prosedur dan persyaratan berat juga harus mereka lalui . muali dari mempresentasikan rencana bisnis, hingga kesediaan menyekolahkan sejumlah karyawannya untuk menimba ilmu kopi. “Kami tebar pesonalah, he…he…,” tambah Ake.

Usaha mereka memang tidak sia-sia. Mereka akhirnya lulus dan menjadi pemegang hak mengelola Starbuck di Indonesia. Kendati begitu, bukan berarti mereka bisa bebas. Sebab, selain harus membayar royalty, mereka harus rutin melaporkan perkmbangan starbuck di Indonesia. Bahkan Ake mengatakan bahwa untuk membuka satu gerai sekalipun harus meminta izin dari kantor pusat Starbuck dan tak bisa seenaknya menentukan lokasi pendirian gerai. “Hanya boleh di kota-kota besar. Bahkan waktu mau membuka di Surabaya saja susahnya minta ampun,” tutur Ake.

Toh, sejauh ini usaha mereka tetap moncer. Kendati baru empat tahun mendapat hak tersebut, kini sekitar 60 gerai Starbuck siap menyediakan kopi di Jakarta, Bandung, Surabaya dan Denpasar.

Belajar Membuat Roti Berbulan-bulan
Kita selama ini lebih mengenal nam Johnny Andrean sebagai piñata rambut dan penyalon kondang. Tapi bukan berarti itu halangan baginya untuk menekuni bisnis lain yang sangat jauh berbeda dengan bisnis yang dia tekuni saat itu yaitu bisnis roti bermerek Breadtalk.

Johnny rupanya yakin, gerai Breadtalk-nya juga bakal sesukses salon-salonnya. Itu lantaran di Singapura roti bermerek ini sangat populer sehingga orang rela antri berlama-lama untuk bisa membelinya.

Makanya ia betul-betul serius ketika menyiapkan gerai yang merupakan waralaba dari Singapura ini. Tanpa sungkan Johnny pergi belajar mengolah roti ke negeri Singa selama beberapa bulan, sebelum akhirnya bulan Maret 2003 gerai Breadtalk itu resmi muncul di sini, di mal Kelapa Gading, Jakarta.

Penciuman bisnis pria kelahiran Pontianak 45 tahun silam inisungguh tajam. Begitu garai pertama Breadtalk dibuka, sekitar 2000-an orang menyerbu setiap hari. Saking ramainya, sampai-sampai Breadtalk menjatah 10 roti untuk tiap pembeli. Kini, 2 tahun berdiri, sulur Breadtalk mulai melebar hingga 14 cabang. Kendati mulai banyak pesaing, pembeli Breadtalk tak pernah surut. Kisarannya 1000-1500 pembeli yang datang.

Johnny sekarang tidak hanya mahir menata rambut, tapi juga pintar membuat roti. Nah, bagi para pelanggan salon Johnny Andrean, jangan buru-buru kecewa, karena pria lulusan Vidal Sasson Academy Londonini suatu ketika pernah berjanji akan tetap menjalankan salonnya seperti biasa. “Lagi pula dua-duanya sudah dikelola secara professional,” kata Johnny waktu itu.

Mereka boleh dibilang jadi dedengkot pemegang franchise kelas dunia. Dan sekarang belum ada dedengkot pemegang jaringan waralaba asli Indonesia. Siapa tahu, Anda yang nantinya memegang gelar itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: