Liku-liku Memburu Brand

Kalau saja Nurcholish tidak merayu Cak Man (Pemilik Bakso Kota) untuk mewaralabakan bisnisnya, bisa jadi merek bakso asal Malang cuma jago kandang. Tidak bisa dipungkiri, berkat jasa Nurcholish sebagai konseptor waralaba dalam meyakinkan pedagang bakso itu, jaringan Bakso Kota terus ekspansi di luar Kota Apel. Mulai dari sekitar Jakarta (Depok dan Plaza Semanggi), Jogya, sebentar lagi buka di Banjarmasin dan Tebet (Jakarta). Tidak mustahil jika brand itu mulai melekat kuat di benak para penggemar bakso beberapa daerah.

Nurcholish bercerita ihwal ia kepincut mempromosikan Bakso Kota. Bermula dari kebiasaannya menyambangi istri yang tengah kuliah di Malang setiap 20 hari sekali, ia selalu menyempatkan mampir makan di Bakso Kota di Jl. Kedaung. Malang. Ia merasakan keunikannya dalam citarasa, tempat dan pelayanan warung bakso yang selalu ramai pembeli itu. Tanpa mau menunda waktu lebih lama, ia pun nekat berkenalan dengan si empunya Bakso Kota dan keluarganya. Lagi-lagi dengan keberaniannya, ia pun melontarkan gagasannya agar Bakso Kota diwaralabakan.

Bagaimana tanggapan cak Ma? “Mulanya yang bersangkutan, ketakutan dengan ide itu. Soalnya ia pernah tertipu,”ujar Nurcholish mengenang saat-saat pendekatan dengan Cak Man sekitar Juni 2004. Toh, Nurcholish pantang menyerah. Jika sebelumnya 20 hari sekali mengunjungi Bakso Kota, frekuensinya lalu ditingkatkan menjadi dua minggu sekaliuntuk kembali meyakinkan pengusaha bakso itu. Ujung-ujungnya, Cak Man tak kuasa lagi menolak. “Akhirnya saya diberi kesempatan buka Bakso Kota di Depok. cabang ini merupakan prototipe untuk gerai waralaba Bakso Kota,” Nurcholish menjelaskan. Jadi, ia butuh waktu sekitar tiga bulan untuk menyakinkan Cak Man supaya mewaralabakan Bakso Kota.

Nurcholish punya jurus sendiri untuk menepis rasa bimbang Cak Man.

Saya coba yakinkan Pak Abdurrahman Toekiman (Cak Man). Meski sudag terkenal di Malang, alangkah baiknya ekspansi ke kota lain dengan sistem waralaba. Selain itu, saya terangkan bahwa banyak para pakar pemasaran yang yakin kalau waralaba adalah konsep bagus dan bisa menyerap tenaga kerja banyak, “ungkapnya. Katakanlah untuk satu gerai, kita sudah mempekerjakan lima tenaga kerja. Menurutnya, usaha mikro bisa menjadi landasan pemerintah kita. Ini terbukti saat krismon, justru yang bertahan adalah UKM.

Tidak hanya Nurcholish yang butuh waktu untuk meyakinkan pemilik merek/usaha. Koma Untoro umpamanya, harus bersabar menunggu beberapa bulana gar musisi Purwacaraka bersedia mewaralabakan sekolah musiknya. “Ketika saya datang tahun 2002 dengan mengusung konsep waralaba, gayung bersambut. Tapi, kami butuh waktu untuk proses penggodokan konsep lebih matang,” ujar konseptor franchise Purwacaraka Music Studio (PMS) itu. Diakui Koma, awalnya Purwacaraka kurang optimis. Alasannya tidak memiliki banyak waktu untuk mengelola dan tidak begitu paham seluk-beluk bisnis dengan pola waralaba.

Kendati baru mulai, bukan hambatan bagi PMS untuk segera mengepakan sayap. Makanya, meski baru digodok beberapa bulan, konsep waralaba PMS segera ditawarkan ke investor. Tergolong berani memang. Hasilnya? Ternyata, tahun pertama cukup berat untuk menjaring pemilik modal. Alhasil, pertumbuhan gerai melambat. Pada tahun pertama PMS cuma mampu membuka 10 gerai. Setahun kemudian, tepatnya akhir  – setelah ramai program reality show menyanyi di TV seperti Akademi Fantasi Indosiar dan Indonesian Idol, jumlah peserta PMS langsung melejit 50%. Selain itu, penambahan gerainya pun berlangsung cepat. Kini, PMS telah memiliki 50 gerai, dan tiap geraimempunyai rata-rata 300 peserta kursus.

Instuisi bisnis Koma dan Nurcholish cukup tajam. Koma sukses mengusung konsep waralaba PMS. Demikian pula Nurcholish dengan bendera Bakso Kota yang dikibarkannya. Bagaimana mereka melihat peluang bahwa suatu usaha layak di waralabakan?

Saya melihat waktu itu belum ada sekolah musik yang berkembang pesat. Rata-rata penyelenggaraannya individu dan institusi yang terkenal cuma Yamaha,” tutur Koma. Dan, pilihan Koma jatuh pada Purwacaraka bukan asal tunjuk. Pertimbangannya, Purwacaraka merupakan figur yang masih di sanjung dan kondang reputasinya. Sebagai musisi, kelebihan Purwacaraka adalah dibekali latar belakang pendidikan akademis yang ciamik, yaitu sarjana dari Institut Teknologi Bandung. Ini mampu menepis citra negatif, pemusik kebanyakan orang jalanan.

Selain nama besar Purwacaraka, kelebihan lain PMS, “Komitmen yang tinggi si pemilik terhadap pendidikan musik di tanah air, khususnyauntuk anak-anak,” kata Koma yang juga tercatat sebagai mentor Entrepreneur University milik Lembaga Pendidikan Primagama itu. Nilai tambah lainnya, tingginya jam terbang yang dimiliki Purwacaraka di bidang musik. bagi Koma sebuah waralaba harus besar dulu untuk dikenal orang. Caranya mesti membuka cabang sebanyak-banyaknya. PMS pertama kali dibuka 15 tahun lalu di Jl. Sriwijaya 44 Bandung.

Sementara itu, Nurcholish mengungkapkan, ada beberapa persyaratan usaha agar layak diwaralabakan. Pertama, usaha itu harus unik atau memiliki karakteristik. “Saya yakin Bakso Kota mempunyai persyaratan itu. Sebab, Bakso yang dikenal di masyarakat adalah Baso Solo (bakso ditambah mi atau bihun). Sedangkan kekhasan Bakso Kota ini berasal dari Malang, yang ada pangsit gorengnya,”ia menerangkan. Perbedaan Nakso Kota dan Bakso Malang yang banyak beredar: Bakso Kota dominan bahan pangsit (kulit pangsit), sedangkan bakso Malang mungkin hanya lembaran pangsit digoreng yang diberi sedikit daging. Yang jelas, ada beberapa jenis pangsit di Bakso Kota. Sebut saja pangsit gorengan panjang, gorengan usus, plus gorengan mekar. Sebenarnya, antara gorengan panjang dengan gorenan mekar itu sama (isi dan kulit pangsitnya sama). Hanya bentuknya yang berbeda.

Memang, di Malang jenis pangsit ini sudah jamak. Namun, di Jakarta dan sekitarnya, sulit ditemukan pangsit gorengan panjang. Itulah prinsip dasar yang membedakan Bakso Kota dari bakso Malang secara umum. Kriteria kedua, usaha itu bisa diduplikasi. Jadi, Bakso Kota yang ada di Depok dan Malang harus sama baik dalam hal rasa, penyajian maupun harga. Itulah sebabnya, untuk menyeragamkan, cabang di luar Malang selalu dikirimi bumbu dan saus racikan dari kota dingin itu. Adapun untuk pembuatan baksonya cukup dilakukan transfer knowledge.

Baik Koma maupun Nurcholish mempunyai pola kerja sama sendiri dengan pemilik merek. “Pola kerja sama kami saling menguntungkan dengan bagi hasil. Tidak ada aturan atau negoisasi khusus. Masing-masing memiliki tugas yang berbeda. Saya lebih banyak menjalankan pemasaran,”ujar Koma yang ogah buka kartu soal bagi hasilnya lebih rinci. Akan tetapi, ia mengakui biaya kursus siswa PMS lebih mahal 40% dibandingkan dengan Sekolah Musik Yamaha. Meski demikian, pihaknya tidak gentar menghadapi ketatnya persaingan. Pasalnya PMS, sebagaimana diklaim Koma, unggul dalam aktivitas sering menggelar konser yang melibatkan para siswa PMS dan mengundang public figure.

Setelah konsep waralaba jalan, saya menjadi tim pemasaran dan pengembangan. Ada pembagian presentase antara Pak Abdurrahman sebagai pemilik dan saya. Untuk bagi hasil franchise fee saya mendapat 30% dan Pak Abdurrahman 70%. Sedangkan untuk royalty fee saya mendapat 20% dan pemilik 80%,” papar Nurcholish berterus terang mengenai pola kerjasama dengan juragan Bakso Kota.

Adapun besarnya fee royalti yang berlaku saat ini: 5% omset penjualan per bulan. Untuk fee waralaba ada tiga tipe yang kisarannya Rp 30-90 juta untuk masa kontrak 3 – 5 tahun. Setelah itu dapat diperpanjang kembali. Sejatinya, di luar Bakso Kota dan Purwacarakan Music Studio, masih banyak merek lain yang layak diwaralabakan. Menurut Peter Yunkim Gunawan saat ini ada tiga pemain lokal yang patut dijual secara franchise. “Contohnya, masakan Cina dari Tawan Restaurant, masakan Jepang ala Ichiban Sushi, dan Scoop Ice Cream,” kata konsultan waralaba Young & Kim Consultant itu dalam jawaban e-mail-nya memproyeksikan. Ketiga usaha makanan itu, di mata Peter measing-masing memiliki kelebihan.

Peter menerangkan, Tawan Restaurant mengawali bisnisnya pada 1996 di Megamal Pluit. Waktu krismon, banyak pengelola resto yang rontok, tapi Tawan tetap bertahan. Setiap membuka cabang tak pernah sepi pengunjung. Bahkan lokasi gerai cabangnya ada di Mal Taman Anggrek, Citraland dan Plaza Setiabudi. Untuk menu resto Cina berkualitas, harga tarif makanan Tawan dinilai Peter relatif murah. Dan, makanan andalannya aneka bubur. Yang menarik, hingga sekarang pemilik resto itu belum berniat mewaralabakan, padahal sudah banyak calon investor yang mengincar.

Cikal bakal bisnis Ichiban Sushi, sebagaimana dituturkan Peter, dirintis dari food court di Plaza Senayan. Resto yang melangkah sejak tahun 1996 itu terkenal dengan harga terjangkau. Meski dibuat oleh orang lokal, kualitas sushi yang ditawarkan Ichiban Sushi tak kalah dari ramuan chef asli Jepang. Sementara itu, Scoops Ice Cream memulai bisnisnya dari Jl. Barito, Kebayoran Baru. “Suasana cozy dan citrarasa es krimnya khas, sehingga sering orang mengira itu produk impor. Pemiliknya tengah menyiapkan diri untuk terjun ke waralaba, lantaran animo calon investor sangat tinggi,”ungkap Peter. Sementara itu, berdasarkan hasil survei SWA, selain ketiga brand yang disodorkan Peter, ada beberapa merek lain yang layak diwaralabakan. Semisal Oil Mart (ritel oli), Gado-gado Boplo (restoran), ACI Ministore (minimarket 24 jam), Eazy Rent A Car (rental mobil), Beautika (restoran), Sekolah (klinik kecantikan), dan Julian Jaya (kursus menjahit). Siapa berminat mewaralabakan.
Dikutip dari: SWA, No. 24/XXI/24 November – 7 Desember

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: